ANBU ACADEMY CHAPTER 05



NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

DLDR!!!

Sasuke menyeret Sakura menuju gedung barat. Beberapa orang yang berpapasan melihat mereka dengan tampang tertarik, kebanyakan gadis-gadis akan menatap mereka dengan pandangan tak suka. Sasuke bahkan tak menghiraukan Naruto yang berteriak memanggil namanya. Lelaki berambut emo itu terus berjalan dengan cepat membuat gadis di belakangnya terseok-seok. Sakura tetap diam, mencoba meredam kekecewaan yang membuatnya ingin menangis. Kakinya terasa lemas dan pegal setelah seharian duduk dan tak melakukan apapun.
Sesampainya mereka di gedung barat yang sepi seperti biasanya Sasuke segera melepaskan pegangan tangannya. Saat tangan Sakura kembali terjatuh ke samping sisi tubuhnya, ia memelankan langkahnya. Ia memandang punggung pemuda di depannya dengan sedih. Ia ingin pulang.
Butuh waktu sedikit lebih lama untuk sampai di ruang 13. Sakura segera terpuruk di lantai begitu ia masuk ke dalam. Kakinya tak kuat menopang tubuhnya lebih lama lagi rasanya ia benar-benar lelah.
"Duduklah di sofa!" Sasuke segera berteriak pada Sakura. Namun Sakura hanya diam mematung. Sasuke kembali menyeret Sakura dengan kasar agar duduk di atas sofa. Lelaki itu segera menyiapkan semangkuk miso dan sebotol air putih yang entah didapatkan dari mana keatas meja.
"Dengar, makanlah dulu dan kita akan membicarakan hal ini kemudian."
"Aku tidak lapar."
"Ck, ayolah seharian ini kau belum makan."
"Kalau begitu kau makan saja sendiri."
"Makan, Sakura!" Sasuke mulai hilang kesabaran.
"Sudah ku bilang aku tidak lapar!" Sakura berteriak kesal. Ia hanya ingin pulang dan bertemu dengan orang tuanya.
"Kau... "
"Aku tidak mau ya tidak mau kau dengar itu kan?" Sakura berteriak kencang.
"Haruno! "
Sakura terkejut bukan main, matanya melebar menatap horor pemuda di depannya. Sementara Sasuke tampak menyesali apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Ia menutup ke dua matanya dan memijat pangkal hidungnya. Semua ini benar-benar membuatnya sakit kepala.
"Sejak kapan?"
"Hn?"
"Sejak kapan kau tahu siapa diriku yang sebenarnya?"
Sasuke mengalihkan perhatiannya keluar jendela besar di sampingnya. Ini hanya soal waktu. Semua orang akan segera mengetahui yang sebenarnya. Tapi tetap saja ini terasa begitu berat untuk Sakura yang notabenenya orang luar. Sasuke tahu Sakura tidak pernah mengenal dunia ANBU. Gadis itu tidak tahu betapa kejamnya dunia yang baru saja ia masuki. Dan ia juga tidak tahu apa yang yang harus dibayarnya untuk menebus kesalahan orang tuanya di masa lalu pada Konoha. Jadi Sasuke berniat mengatakan yang sebenarnya.
"Sebelum ini kau tidak tahu apa itu ANBU kan?"
Sakura diam saja, bingung antara mengatakan yang sebenarnya atau tetap berbohong seperti yang selama ini ia lakukan.
"Jujur saja Sakura, ini demi kebaikanmu," Sasuke mulai tidak sabar. Saat ini dewan ANBU beserta para tetua sedang mengadakan pertemuan membahas masalah keluarga Haruno. Ini bisa saja menjadi lebih buruk dari yang Sasuke kira. Apalagi sejak semua yang Sakura lakukan menarik perhatian semua orang. Walaupun sekarang hanya beberapa orang saja yang mengetahui siapa sebenarnya Sakura, namun dia yakin sebentar lagi identitas Sakura akan segera terbongkar. Sampai saat itu tiba, tidak ada yang bisa dilakukannya untuk menolong gadis itu.
Sakura menggeleng, "tidak. Aku tidak tahu apa itu ANBU. Aku tidak tahu masa lalu orang tuaku. Jadi selama ini aku dibohongi kan?"
"Apapun yang orang tuamu lakukan itu untuk melindungimu. Jadi sekarang makanlah dulu, kita akan membicarakannya kemudian."
Sakura kemudian menenggak botol berisi air mineral hingga tersisa setengah. Ia tak mengira jika dirinya sehaus ini. Namun ia tak berselera makan, jadi ia meletakan kembali sendoknya setelah suapan yang ke dua. Ia menarik napas panjang dan menguatkan hatiuntuk mendengar hal-hal yang mungkin bisa membunuhnya.
"Sekarang ceritakan semua yang tak kuketahui."
"Dengar, Sakura. Karena suatu alasan di masa lalu orang tuamu dianggap sebagai seorang pengkhianat. Sejak malam kau datang, para ANBU menjadi lebih sering mengadakan pertemuan membahas masalah ini. Kau adalah anak seorang pengkhianat yang nyawanya dapat melayang kapan saja."
Sakura terkesiap, ia menutup mulutnya yang dengan sebelah tangan sambil menggeleng tidak percaya. Ayahnya adalah seorang pengkhianat Konoha. Ini tidak mungkin.
"Mereka kini sedang menyelidiki siapa dirimu, hanya soal waktu sampai mereka mengetahuinya dan itu tak lama lagi. Sampai saat itu tiba tugasmu adalah tetap merahasiakan identitasmu. Itulah sebabnya mengapa sebaiknya kau tak pernah berteman dengan siapapun atau melakukan tindakan yang dapat membuatmu semakin dikenal oleh banyak orang. Tapi terlambat, kau sudah menarik perhatian semua orang, begitu juga para dewan ANBU. Mereka sedang mencari dirimu. Ulur waktu selama mungkin, dan berlatihlah dengan cepat. Jangan biarkan orang lain tahu jika kau tak pernah menempuh sekolah ANBU sebelumnya."
Sakura memejamkan mata dan menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangannya. Ia tak percaya dengan apa yang terjadi. Kepalanya sungguh terasa berat. Begitu banyak hal yang tidak ia ketahui.
"Apa yang telah dilakukan oleh orang tuaku di masa lalu?"
"Sekarang bukanlah saat yang tepat untuk membicarakannya sejak banyak cerita yang simpang-siur mengenai hal itu. Yang terpenting saat ini adalah latihan agar kau bisa bertahan disini. Mulai dari sekarang kita akan lebih banyak berlatih. Aku akan mengajarimu dengan cepat, jadi kuharap kau juga melakukan hal yang sama."
Sakura tetap bungkam. Sasuke telah mengetahui identitasnya, apakah ia bisa mempercayai pemuda itu?
"Kau bilang jangan pernah percaya pada siapapun, jadi kenapa aku harus percaya padamu?" matanya kembali berkaca-kaca mengingat ia sendirian menghadapi masalah yang bahkan tak pernah ia ketahui. Sasuke memalingkan wajahnya ke tembok yang semakin ia perhatikan semakin jelas jika permukaannya tak semulus jika dilihat dari kejauhan. 'Begitu juga hidup,' pikirnya.
"Ya. Jangan pernah percaya padaku juga."
Sakura kecewa mendengar jawaban Sasuke, setidaknya ia berharap Sasuke mengatakan bahwa ia dapat mempercayai pemuda itu. Walau itu bohong.
"Dunia ANBU itu kejam, mereka takkan pernah memberikan belas kasihan pada siapapun yang terbukti bersalah. Semua orang disini individualis. Mereka takkan pernah pernah ikut campur urusan orang lain meskipun mereka tahu kebenarannya. Dan kau tak tahu seberapa buruk hukum ANBU itu. Kau terlalu naif dan lemah. Ini sangat berbahaya untuk keselamatanmu. Aku tak sedang menakutimu, karena itulah faktanya. Satu-satunya alasan kenapa aku mengatakan semua ini dan kenapa kau bisa mempercayaiku tentang masalah ini adalah, karena aku peduli dengan keinginanku. Sejak ini menguntungkan kita berdua, harusnya kau tak perlu memusingkan hal ini. Bekerjasamalah, dan kau akan bertahan di sini."
Apa ini? Apa yang Sasuke katakan? Ia benar-benar tak menyangka semua kebaikan yang diberikan oleh Sasuke itu semata-mata hanya karena pemuda itu peduli dengan dirinya sendiri. Oh, betapa menggelikanya semua ini. Sejak tak ada pilihan lain, maka ia akan mengikuti permainan ini. Ia harus kuat.
"Aku tak punya pilihan?"
"Makanlah, lalu kembali ke tempatmu. Jangan pernah dengarkan apa yang orang lain katakan. Kau harus berjuang lebih keras besok."
***
Sakura berjalan dengan lunglai. Langkahnya terasa lebih berat 1000 kilogram. Saat ia sampai di depan pintu dorm siswa tingkat pertama, ia sama sekali tak ingin masuk. Jadi, ia hanya berdiri sendirian disana untuk waktu yang lumayan lama. Samar-samar terdengar suara gaduh teman-temanya dari balik pintu, mengingatkanya bahwa besok adalah hari libur. Semua orang pasti sedang berbahagia di dalam, jadi ia tak ingin masuk. Ia memperhatikan koridor yang sepi, dan berjalan menelusurinya. Sampai pada sebuah tangga yang berkelok-kelok.
Sakura dengan susah payah berusaha melewatinya. Dipenghujung anak tangga, ia melihat sebuah pintu besi berkat. Sakura tau, tangga ini membawanya ke lantai teratas gedung itu. Tanpa ragu ia membuka pintu menutupnya kembali. Udara dingin segera menyeruak menggelitik lenganya yang tak tertutup kain. Ia memandang sekelilingnya yang gelap mencoba menelaah keadaan. Awalnya Samar-samar, tapi setelah matanya terbiasa dengan gelap ia dapat melihat lantai beton yang luas itu dipenuhi dengan rumah kaca yang terbengkelai. Pot-pot bunga berserakan. Dulunya tempat itu pasti indah, seperti rumahnya. Ibunya juga mempunyai rumah kaca kecil disamping rumahnya. Ia sering menemani ibunya memupuk tanaman. Walaupun ia tak pernah mau jika ibunya menyuruhnya membantu memupuk tanaman, tapi saat-saat seperti itu selalu membuatnya bahagia. Ibunya selalu menggodanya jika tak akan ada lelaki yang mau dengannya jika Sakura tak bersikap selayaknya perempuan. Ibunya bilang perempuan itu suka keindahan dan selalu bersikap manis. Waktu itu Sakura akan cemberut karena ia tahu ibunya sedang mengatakan bahwa dirinya tidak pernah bersikap layaknya seorang gadis.
Sakura tak pernah mempunyai teman perempuan di Oto, sejak satu-satunya temannya adalah Sasori yang lima tahun lebih tua darinya. Sasori adalah cucu laki-laki nenek Chiyo yang tinggal di sebelah rumah Sakura. Sakura sering ikut Sasori bermain bersama anak laki-laki lainnya. Bahkan Sakura sering ikut mencuri mangga muda milik tetangganya dengan memanjat pagar yang tinggi. Ia pun pernah ikut Sasori dan teman-temanya menggoda gadis – gadis cantik di desanya. Sasori sudah ia anggap seperti saudara laki-lakinya. Pemuda itu selalu peduli padanya dia akan melakukan apapun untuknya.
Tanpa Sakura sadari ia sudah bersimpuh di lantai yang dingin. Tangannya menggenggam tanah yang tumpah dari dalam pot. Tangisnya tak bisa dibendung lagi. Air mata yang sejak tadi ditahanya kini mengalir deras membasahi pipinya. Isakanya semakin keras saat ia mengingat ibu dan ayahnya. Ia butuh sandaran. Ia butuh orang-orang yang selalu mendukungnya. Ia takut sendirian di tempat yang kejam ini.
Tanpa Sakura sadari seseorang yang lebih dulu datang ke balkon itu menatapnya dengan sedih. Dia tak tahu apa yang yang terjadi pada gadis itu, namun apapun itu ia yakin bukanlah sesuatu yang mudah. Ia memperhatikan Sakura dalam diam. Gadis itu sesenggukan karena menagis dalam waktu yang lama. Rambut merah mudanya walau tak terlihat jelas karena gelap yang kini diekor kuda melambai-lambai terkena angin kencang. Dia tahu gadis itu kedinginan. Ia hanya memakai T-shirt dan jeans belel. Dia ingin memberikan jaket tebalnya pada gadis itu dan berkata semua akan baik-baik saja. Karena itulah yang biasa laki-laki lakukan pada seorang perempuan. Namun dia tetep diam ditempat. Menonton seorang gadis menangis dan kedinginan. Dia benar-benar merasa menjadi seorang pecundang.
Dia tetap diam disana berjam-jam sampai gadis itu bangkit dan dengan dengan langkah yang berat meninggalkan balkon. Sementara dia tetap diam ditempat. Lampu yang sejak kedatangan Sakura ke balkon itu dia matikan, tetap dibiarkanya mati. Integrated circuit yang sedang disusun sebelumnya kembali dia biarkan. Moodnya sudah hilang gara-gara gadis itu. Kenapa dia harus merasa bersimpati pada gadis yang bahkan tak ia kenal begitu baik. Kenapa dia harus peduli? Kenapa dia harus mempunyai perasaan ini? Tiap kali memikirkanya dia akan merasa bad mood. Sebelumnya tak ada yang pernah membuatnya begitu tak tertarik pada dunia elektronik. Tiap kali ia merasa buruk, semuanya akan kembali baik jika dia sudah berkutat dengan rangkain sirkuit. Tapi sekarang bahkan ratusan resistor dihadapanya tak dapat mengembalikan minatnya sebelum ini.
"Sial!"dia mengumpat entah pada siapa. Dipijatnya pangkal hidungnya berharap rasa tak menentu ini akan menghilang. Namun nyatanya hal itu semakin membuat kepalanya semakin sakit.
Dia tak menyangka dari sekian banyak orang di sana, justru Sakuralah yang menemukan markas rahasianya dengan Konohamaru. Biasanya dia akan menggemboknya tiap kali datang ataupun pergi dari balkon. Tapi sepertinya tadi dia lupa menguncinya. Dia bangkit tanpa menghiraukan berbagai komponen elektronik yang menyebar dihadapanya. Menepuk debu yang menempel dibagian celananya kemudian dia melangkah meninggalkan balkon itu. Sekarang pasti sudah larut malam. Dia harus tidur sekarang juga, sudah tiga malam dia kurang tidur. Tak lupa ia mengunci pintu sebulum kembali ke kamarnya.
***
Sakura bertekad untuk bertingkah seperti biasa walau ia tau sekarang sebelah matanya sembab dan sebelah lagi ia tak berani membuka perbanya. Terakhir kali ia mengecek keadaan sebelah matanya membuatnya terlihat seperti zombie jadi ia akan membuka perbanya jika warna ungunya sedikit pudar. Seperti biasa Ino dan Hinata sudah menunggu didepan pintunya. Saat ia meliat mereka berdua ia merasa sedih. Apakah hubungan mereka selama ini bisa disebut sebagai teman? Entah apapun itu sebutanya, ia tetap merasa itu adalah sebuah ikatan yang berharga sejak hanya mereka berdua yang peduli padanya. Ia akan tetap berteman, hanya saja ia akan lebih berhati-hati mulai sekarang.
"Kalian tau, akhir bulan ini akan ada pesta di aula utama. Dan kita siswa tingkat pertama boleh menghadirinya. Oh astaga sejak dulu aku memimpikan saat-saat dimana aku akan memakai gaun pesta yang kupilih sendiri bukan gaun pesta jelek pilihan ibuku. Oh mengingat pesta kelulusan kemarin membuatku kesal saja,"Ino dengan semangat yang berapi-api mengungkapkan keinginanya.
"Gaun Ino-chan saat pesta waktu itu cantik," Hinata dengan senyuman kalem berkata pada Ino.
"Cantik dari Hongkong, gaun itu terlalu banyak rendanya sungguh kekanakan. Aku ini sudah dewasa Hinata, jadi aku mau gaun yang sedikit err... seksi seperti gaun-gaun yang dikenakan oleh layaknya orang dewasa."
"Ino, kau bisa saja hahaha..."
"Aku ingin memakai gaun backless dengan belahan dada yang sedikit rendah berwarna merah terang."
"Ow, menurutku itu terlalu berlebihan," Hinata memberikan pendapatnya.
"Bagaimana denganmu Sakura?" Ino bertanya pada gadis merah muda yang sejak tadi hanya diam.
"Huh? "
"Gaun pesta," Ino tampak kesal dengan Sakura yang ternyata sejak tadi tak mendengarkanya.
"Aku tidak yakin dengan itu, aku tidak suka ke pesta," Sakura tersenyum tak peduli. Sebenarnya ia bohong, ia ingin sekali datang ke pesta. Tidak seperti Ino, Hinata dan gadis-gadis sebayanya ia tak pernah sekalipun datang ke pesta. Pesta hanya dapat dilihatnya pada acara-acara televisi. Ia juga ingin memilih gaun cantik seperti Ino, tapi logikanya berkata bahwa datang ke pesta bukanlah pilihan yang bijak. Jadi ia akan mengabaikanya dan terus berlatih.
"Sakura-chan kau baik-baik saja?" Hinata bertanya khawatir.
"Ya."
"Sakura, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu. Kemarin kau...,"Hinata segera memotong kata-kata Ino.
"Ino, kau mau membeli gaun bersamaku?"
"Oh, ya tentu," Ino kembali antusias membicarakan tentang pesta akhir bulan nanti.
Sakura merasa semakin hari keadaanya semakin buruk. Kepalanya terasa sakit akibat kurang tidur. Bengkak di matanya sudah mulai mengempes, namun ia belum melepas perbanya. Ia sedikit tak peduli dengan keaadaanya. Saat ini yang dipikiranya hanya bagaimana cara bertahan hidup dilingkungan tempatnya berada dan mengulur waktu selama mungkin agar identitasnya tak cepat diketahui. Ia bahkan tak berselera makan, namun ia harus seperti kata Sasuke.
Begitu ia melangkahkan kaki ke dalam kafetaria, semua mata gadis-gadis menatap tajam kearahnya. Ia tau cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Mencoba mangabaikanya, Sakura berjalan seperti biasa. Beberapa orang mulai membicarakanya.
"Jangan dengarkan mereka, pura-pura saja kau tak mendengarnya!" perintah Ino yang kesal dengan gadis-gadis di kafetaria. Ia memandang sekeliling dengan sinis. Setelah memilih makanan, sakura segera mencari tempat duduk yang kosong.
"Haruno!"
Saat itu juga langkahnya langsung berhenti. Tanganya yang memegang nampan bergetar. Dadanya terasa ngilu. Pikiranya berkecamuk, inikah akhir hidupnya?


...

Tbc

Komentar