ANBU ACADEMY CHAPTER 02


Naruto © Masahi Kishimoto


DLDR!

Ia menemukanya sedang bersama dengan seorang gadis tinggi berambut pirang panjang dan seoarang pemuda tambun. Gadis pirang itu terlihat kesal dari caranya melotot pada sekumpulan gadis-gadis . Sedangkan pemuda tambun itu secara sembunyi-sembunyi menyisipkan makanan yang disembunyikan dalam kantung blazernya ke dalam mulut.
"Sakura," Hinata melambaikan tangan menyuruhnya mendekat. "Kau baik-baik saja?"
"Ya, jangan khawatir. Bagaimana denganmu?"
"Aku baik-baik saja. Sakura, ikutlah kelompok kami. Kami kekurangan anggota."
"Iya Sakura, kau tidak akan menyesal ikut dengan kelompok kami," pemuda gemuk itu menimpali.
"Tentu Hinata, aku senang satu kelompok denganmu."
"Syukurlah, perkenalkan ini Chouji Akimichi. Chouji ini Sakura," Hinata menunjuk pemuda di depanya kemudian menunjuk gadis pirang yang sedang mengomel entah pada siapa, "Dia, Ino Yamanaka. Ino, ini Sakura yang kuceritakan padamu tadi."
"Huh? Kau boleh ikut kelompok kami jika kau bisa mengalahkan si Uzumaki sialan itu ," mata biru Ino berkilat penuh kebencian.
"Ino, kita sedang kekurangan anggota ingat?" Hinata mengingatkan yang disetujui Chouji dengan anggukan.
"Terserah kau saja lah," Ino kembali memelototi gadis-gadis yang sedang memandangnya remeh.
"Ino memang begitu, tapi dia baik kalau kau sudah kenal," Hinata berbisik pada Sakura yang dijawab dengan anggukan.
"Semua murid kelas satu kembali ke kamar masing-masing dan gantilah pakaian kalian dengan training suit serta pelindung kepala. Kembali lagi kesini dalam lima menit, dimulai dari sekarang!" suara tegas itu terdengar melalui speaker.
Semua murid kelas satu langsung lari berhamburan berebut cepat. Sakura ikut berlari dengan kencang mengingat kamarnya yang berada di paling ujung. Ketika berdesak-desakan di pintu keluar, ia terjatuh. Rupanya tali sneakernya terlepas dan terinjak oleh seseorang. Ia terjerembab hampir terinjak oleh murid-murid lain yang berlarian. Ia segera mengikat tali sepatunya dengan asal.
Sebuah tangan terulur di hadapanya. Ia mendongak dan bertatapan dengan pemuda berambut merah cepak. Gaara, anak petinggi Suna. Setidaknya itu yang Sakura dengar dari gadis-gadis disekitarnya yang membicarakan sosok tampan itu. Ia menerimanya tanpa ragu dan mengucapkan terima kasih. Pemuda itu hanya mengangguk.
"Cepatlah berganti jika tak ingin terkena masalah," itulah yang dikatakan pemuda bertato ai di dahi sebelum berlari menjauh.
Ketika ia kembali ke aula sebagian murid kelas satu sedang di tutup matanya menggunakan kain. Ia mencari Hinata dan menemukanya sedang berbicara dengan seorang pemuda kelas tiga berambut pirang jabrik. Hinata tersenyum sambil tersipu-sipu sebelum pemuda itu menutupkan kain kematanya. Sakura segera berdiri di samping Hinata.
"Kau Sakura kan?" seorang gadis bercepol empat menghampirinya.
"Ya," Sakura ingat gadis itu adalah gadis yang memanggil Shikamaru semalam.
"Namaku Temari. Nah sekarang aku akan menutup matamu. Katakan jika penutup mata ini membuatmu merasa kesakitan, oke!" Sakura mengangguk. Ia segera menyukai gadis pirang itu atas keramahanya.
Semua murid kelas satu disuruh memegang tali yang saling terhubung satu sama lain. Mereka berjalan pelan-pelan dan dibawa ke lapangan terbuka, kemudian mereka disuruh berbaris. Sakura merasa sedikit berat dengan helm baja yang dikenakanya. Ia berusaha memanggil Hinata dengan suara rendah ke sekitarnya. Namun ia kecewa karena tak ada jawaban.
"Hei, kau Sakura! Kau berada di barisan terdepan!" suara keras dari speaker yang entah berada di mana membuatnya terlonjak kaget.
"Kau siswa paling akhir, paling muda dan paling tidak disiplin. Untuk semuanya saja, ini bukanlah sebuah permainan. Bagi siapapun yang tidak disiplin dan melanggar peraturan, akan ada hukuman untuk kalian. Mengerti?" Sakura tak tau siapa yang berbicara tapi sungguh suara perempuan itu membuat nyalinya kian menyusut.
"Siap, mengerti!" semua menjawab bersamaan, kecuali Sakura yang tetap diam.
"Sakura, cari Tayuya senpai setelah latihan ini berakhir!" Sakura lemas mendengar kata-kata itu, ia pasti akan terkena hukuman pikirya.
"Semua kelas satu, harap tetap diam di tempat sampai ada instruksi agar kalian bergerak sesuai perintah," kali ini suara laki-laki dengan intonasi rendah.
Suara-suara langkah kaki terdengar menjauh kemudian hening sekitar 20 menit. Sakura merasa akan mati kebosanan sampai bunyi ledakan bom yang memekakan telinga membuatnya kaget. Semua orang tampaknya terkesiap. Sakura merasa jantungnya akan melompat keluar. Reflek ia menutupi ke dua telinganya dengan telapak tangan.
"Turunkan badan kalian dan mulailah merayap ke depan dengan cepat!" tanpa pikir panjang Sakura segera menurunkan badanya dan mulai merayap.
Belum hilang kekagetanya dari suara bom yang menggelegar, bunyi renteten senjata yang ditembakan entah kemana membuat kakinya lemas dan bergetar. Kepalanya terus dipukul ketika tanpa sengaja ia mendongak. Ia terus dipaksa mencium tanah dan merangkak keliling lapangan. Bau debu segera membuat dadanya sesak. Terik matahari seakan membakar tubuhnya. Tak main-main, sebuah injakan keras akan diterimanya ketika ia terlalu tinggi mengangkat punggungnya. Ketika ia mulai merayap pelan karena kelelahan, maka tubuhnya akan menerima pukulan yang menyakitkan. Bunyi rentetan tembakan itu terus berlanjut tanpa jeda. Ia sudah lelah dan kehausan. Kepala dan sekujur tubuhnya terasa sakit karena terus di pukuli. Pergelangan tangan kirinya terasa sakit sekali namun ia berusaha mengabaikanya hingga terasa kebas. Ia berusaha agar cepat sampai tujuan yang ia tak tahu masih seberapa panjang. Ia merasa ketakutan dan kelelahan. Belum pernah ia merasa semenderita ini sebelumnya. Dapat ia dengar suara jeritan seorang gadis, yang ia tahu itu adalah suara seseorang yang baru beberapa waktu lalu dikenalnya. Hinata. Namun ia pun tak bisa menolongnya, ia merasa putus asa. Ia bertanya-tanya seberapa jauh jarak yang harus ditempuhnya agar dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi. Keringatnya menetes dan membasahi baju trainingnya. Kepalanya terasa berdenyut-denyut sakit. Ketika tanganya menggapai sebuah tembok, seseorang menyuruhnya agar berhenti dan saat itu juga ia tengkurap diam tak bergerak untuk waktu yang lama. Rasanya ia ingin mati saja. Tenggorokanya kering kerontang. Ia tak menyadari sejak kapan rentetan senjata yang memekakan telinga itu berhenti ditembakan.
"Buka penutup matamu!"
Dengan patuh Sakura perlahan membuka penutup matanya. Silau cahaya matahari membuat matanya sakit. Perlahan ia mengamati sekelilingnya. Di depanya ternyata sebuah tribun luas yang saat ini digunakan oleh beberapa orang untuk beristirahat. Ia melihat teman-teman seangkatanya, semua terlihat menyedihkan sama seperti dirinya. Ia menyadari pergelangan tanganya kembali berdarah. Lututnya mulai terasa perih.
"Latihan sudah selesai. Bukankah seharusnya kau segera menemui Tayuya?" laki-laki dengan rambut panjang coklat mengingatkanya. Neji Hyuuga, Sakura membaca tag name di dada kiri blazer laki-laki itu. Matanya berwarna perak seperti Hinata, jadi ia menyimpulkan mungkin Neji ini saudara Hinata.
"Dimana aku bisa mencari Tayuya?" Sakura berusaha bangkit. Punggungnya terasa nyeri sekali.
"Cari saja perempuan berambut merah muda sepertimu, hanya saja warnanya lebih gelap. Tenang saja, hanya kau dan dia di sini yang berambut merah muda," setelah itu Neji pergi.
Sakura mencari-cari perempuan berambut merah muda di antara lautan manusia yang berlalu lalang. Semua teman-temanya sedang beristirahat namun dirinya harus mencari perempuan yang mungkin belum pernah dilihatnya. Ia begitu marah dengan semua ini. Sebenarnya sekolah apa ini? Ia tak bisa membayangkan jika tetap seperti ini selama tiga tahun. Ia terus mencari-cari sosok bersurai merah muda.
"Kau tau, dilarang menggunakan alat bantu apapun selama masa pelatihan kecuali memang disuruh instruktor, Uzumaki?" Sakura mencari sumber suara, dan ketemu. Seorang gadis berambut pink panjang tengah mengacungkan jarinya pada Menma. Sementara anak lelaki itu hanya menatap seniornya dengan bosan.
"Permisi," ke dua orang yang sedang berhadapan itu menoleh pada Sakura yang berdiri dengan kikuk.
"Sakura, kau juga sebaiknya bergerak cepat tidak bertele-tele seperti orang yang tak pernah makan!" Sakura dapat melihat betapa tegasnya perempuan itu. 'Perempuan ini gila' pikirnya.
"Untuk mendisiplinkan kalian, lari keliling lapangan Sakura cukup 3 putaran dan kau Menma, 5 kali putaran!"
"Kau bercanda, aku sama dengan gadis bodoh ini 3 kali putaran," Sakura heran bagaimana mungkin Menma begitu berani pada seniornya.
"Kesalahanmu lebih berat dari Sakura, jadi tidak mungkin hukumanmu disamakan!" dahi Tayuya berkerut marah.
"Kalau begitu 4 kali."
"Aku bukan penjual, Uzumaki."
"Tapi aku mau menawar."
"Terakhir kali ini. Kalian berdua cepat laksanakan perintah, setelah itu segera menyusul teman-teman kalian di kafetaria!"
Sakura langsung berlari mengikuti Menma yang terlebih dulu berlari. Menma semakin jauh di depan dan ia tak bisa mengimbangi kecepatan lari pemuda itu. Kakinya terasa pegal sekali. Lapangan sudah sepi karena semua orang sudah ke kafetaria sepertinya. Panas matahari benar-benar membuatnya sekarat kehausan.
"Kukira kau sudah mati," Menma sudah berada di belakangnya. Tampangnya sudah kelelahan tapi mungkin tenaganya masih ada yang tersisa tidak seperti dirinya.
"Kau pikir aku selemah itu?" ia sebal jika ada yang menyepelekan kemampuanya.
"Lihatlah tampangmu, seperti mayat hidup. Menyedihkan. Jangan pingsan, di sini tak ada orang," Menma berlari dengan kencang jauh meninggalkanya. Dadanya sekarang ikut sakit dan satu putaran lagi ia pasti akan tumbang.
***
Semua orang di kafetaria memandangnya dengan arti yang bermacam-macam namun tak ia hiraukan. Tujuanya hanya satu, air. Ia minum air putih banyak-banyak lalu mengambil senampan penuh makanan yang ada dan membawanya bergabung bersama Menma. Karena memang itu pilihanya. Semua meja sudah penuh. Ia makan dalam diam, pura-pura tak menyadari pandangan seluruh mata di mejanya kini terarah padanya. Saat ia selesai makan baru ia menyadari bahwa dirinya satu-satunya perempuan diantara 10 orang yang duduk mengelilingi meja. Beberapa siswa senior perempuan berbisik-bisik dan memandangnya dengan mata yang disipitkan. Ia tak tahu apa yang sudah dilakukanya sehingga membuat banyak orang memandangnya dengan pandangan tak suka. Ia memandang berkeliling dan melihat Ino yang berbicara tanpa suara agar ia segera pergi dari meja itu. Ia berdehem dan berdiri bermaksud meninggalkan tempatnya saat ini, tapi sebuah tanggan menahanya. Sakura mengenali pemuda itu. Kawaki.
"Duduklah dulu, tak usah terburu-buru Sakura."
"Aku ada perlu dengan temanku," Sakura beralasan. Tapi tangan Kawaki di pergelangan tanganya tak mau lepas. Dengan terpaksa Sakura duduk kembali. Ia melihat ke arah Ino dengan putus asa sedangkan gadis berambut pirang itu membuat gerakan isyarat 'matilah kau' dengan gerakan tangan memotong leher.
"Lukamu berdarah lagi," Kawaki menunjukan pergelanganya. Kasa putih itu berubah warna karena bercampur darah dan tanah.
"Aku akan membersihkanya," Sakura bangkit dan berjalan dengan cepat meninggalkan ruang makan. Ia bahkan baru menyadari rasa sakit seperti terbakar dipergelangan tanganya.
"Perhatian untuk siswa tingkat pertama! Semua barang-barang elektronik yang kalian bawa kemari, termasuk ponsel, hololens, kamera dan semua mainan-mainan kalian, agar segera diserahkan kepada instruktor dalam waktu 5 menit. Jangan berpikir untuk menyembunyikanya, karena akan kami lacak dan akan mendapatkan hukuman yang tidak main-main tentunya. Dimulai dari sekarang!" Sakura tahu itu pasti suara Neji Hyuuga. Ia tak punya pilihan lain selain ikut mengumpulkan satu-satunya alat komunikasi yang menghubungkan dirinya dengan orang tuanya. Padahal ia ingin menceritakan semua kejadian hari ini dan ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada sekolahnya, tapi untuk sementara keinginanya takan bisa terwujud.
Badanya terasa hancur lebur, apalagi setelah mandi berbagai luka di tubuhnya semakin terasa perih. Baru sehari di sini tapi ia benar-benar ingin pulang, bertemu ibu dan ayahnya. Melakukan hal-hal menyenangkan yang biasa ia lakukan. Sungguh rasanya ia ingin tidur, tapi jam 8 adalah waktunya berkumpul di aula untuk acara pengenalan kakak kelas secara resmi dan juga pemilihan instruktor.
Tok tok...
Suara pintu yang diketok membuatnya bertanya-tanya siapa yang akan mengunjungi kamarnya jika ia tak punya seorang kenalan di sini?
"Hei, Sakura. Boleh aku masuk?" Ino sudah berdiri di depan pintunya mengenakan celana dan baju hitam. Ia membuka lebar pintu dan menutupnya setelah Ino masuk. Ino melihat sekeliling kamar Sakura, kemudian duduk di atas tempat tidur.
"Aku belum sempat membereskan barang-barangku, mungkin nanti," Sakura berusaha menjelaskan ketika melihat Ino yang terus memandangi koper-kopernya.
"Apa yang terjadi di kafetaria?" Ino tampak antusias bertanya.
"Oh," Sakura duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur. Ia mengangkat kedua kakinya dan memeluknya. "Tak ada yang terjadi. Aku terpaksa duduk disana, memangnya siapa yang mau duduk dengan orang-orang menakutkan seperti mereka?"
"Dengar Sakura, itu adalah meja untuk dewan siswa laki-laki. Apapun yang terjadi jangan pernah kau duduk disana lagi jika kau mau tak mendapatkan masalah."
"Memangnya apa yang akan terjadi jika aku duduk disana?" entah kenapa Sakura merasa bahagia berbincang dengan Ino. Seolah ia mempunyai teman yang akan siap mendengar semua keluh kesahnya.
"Kau akan mendapat perlakuan yang tak layak dari para senior karena dianggap tak sopan, terutama gadis-gadisnya."
"Tapi aku kan tidak tahu Ino, lagipula Menma kelihatanya tak ada masalah," Sakura mengangkat bahunya.
"Dia bukan seorang gadis, lagi pula siapa yang bisa mengatur Menma? Anak berandal itu. Kau tidak tahu?" Ino mengangkat alisnya. Dengan tampang polos sakura menggeleng.
"Kau ini sedikit aneh, semua orang tak terkecuali dari luar Konoha pun tahu hal-hal sepele semacam itu Sakura," Ino memandangnya dengan tajam.
"Ah, sebenarnya ada hal yang lebih penting yang ingin kutanyakan padamu Ino," Sakura berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Hal penting apa itu?" Ino merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
"Em itu..., apa kau tahu seorang lelaki jangkung bermata hitam, rambutnya seperti pantat ayam tapi dia sedikit tampan?" Sakura sedikit tersipu.
"Maksudmu Uchiha Sasuke?" Ino segera bangkit dan dengan semangat bertanya.
"Aku kan bertanya padamu, kenapa kau balik bertanya padaku?"
"Memangnya ada apa denganya? Kau menyukainya?"
"Aku hanya penasaran, aku pernah melihatnya saat pertama kali datang kesini, tapi kenapa dia tak terlihat dimanapun saat penyambutan siswa baru dan setelahnya. Bukankah dia juga seorang senior?" Sakura pura-pura sibuk dengan sebuah selebaran yang ada di meja kecil di sampingnya.
"Jangan bilang kau tak tertarik padanya. Semua gadis-gadis yang pernah melihatnya pun akan terpesona."
"Termasuk dirimu?" Sakura berniat menggoda Ino.
"Tentu saja, siapa yang dapat menolak pesona seorang Uchiha Sasuke?" Sakura sontak terkejut. "Tapi itu dulu, aku sudah lelah mengejar pria dingin sepertinya. Uchiha Sasuke adalah pria tertampan di Konoha, sebenarnya sih bukan. Masih ada yang lebih tampan darinya. Dia tidak pernah benar-benar sekolah karena dia secara khusus belajar di rumah. Dia adalah anak yang cerdas, sabenarnya ditingkat kedua dia telah ditunjuk sebagai instruktor tapi dia menolaknya. Sekarang dia menjadi satu-satunya tingkat III yang menjadi anggota ANBU, walau belum diakui secara resmi tapi kemampuanya setingkat ANBU. Sasuke Uchiha dan Shikamaru Nara adalah dua orang yang sudah diakui kehebatanya dalam menjalankan misi sehingga mereka berdua sudah diikutsertakan dalam sistem ANBU," dengan antusias Ino bercerita.
"Jadi Shikamaru juga sudah menjadi ANBU?" Sakura bertanya dengan tidak yakin.
"Belum. Shikamaru belum dapat menandingi kehebatan Uchiha Sasuke, jadi dia tak ada bedanya dengan Jounin-Jounin yang lain. Kalau kau jarang melihat Sasuke, itu karena dia lebih sering rapat dan membahas entah apa itu, dengan para ANBU. Dan ingat Sakura, jangan berharap dia akan menjadi seorang instruktor!"
"Jadi dia tidak akan menjadi seorang Instruktor yang artinya dia tidak akan datang malam ini?" Sakura benar-benar kecewa, dia berharap dapat bertemu dengan pemuda itu untuk menyampaikan rasa terima kasihnya karena telah menolongnya.
"Kemungkinan besar tidak, kudengar ANBU sedang ada masalah serius jadi kukira sekarang mereka sedang berunding dan membicarakanya. Tapi tenang saja Sakura, disini masih banyak pemuda-pemuda tampan yang dapat membuat jantungmu berlari maraton," kata ino yang kemudian tertawa cekikikan.
"Kau tahu guru Kakashi kan? Ada yang bilang dibalik masker yang mencurigakan terdapat wajah yang rupawan, bagaimana kalau mulai sekarang kau menggantikan dia sebagai pengganti Sasuke?" Ino berusaha menggoda Sakura.
"Sialan kau Ino, dia bukan pemuda lagi bagiku," Sakura bersungut-sungut.
***
Sakura benar-benar bingung dengan semua yang terjadi di sekitarnya. Sekarang saatnya pemilihan instruktor, lebih tepatnya para instruktor yang memilih siswa junior sepertinya. Setiap siswa diharuskan menunjukan bakatnya entah dalam urusan menggunakan senjata, gulat maupun mengatur strategi perang yang sama sekali tak Sakura mengerti. Tapi semakin lama apa yang dibicarakan Mizuki dan Kawaki mulai dimengertinya. Meskipun ia tak tahu secara pasti, tapi satu kesimpulan yang berhasil didapatkanya bahwa ini bukanlah sekolah normal. Tiba-tiba semua kata-kata ayahnya dan tingkah laku ibunya menjadi masuk akal sekarang. Tapi kenapa harus disembunyikan darinya, kenapa harus ia yang menemukanya sendiri? Apa yang sebenarnya terjadi? Kehidupan macam apa yang harus dijalaninya mulai saat ini? Semua pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepalanya. Ia tak bisa bertanya pada siapapun. Tidak saat ayahnya berulang kali mengatakan padanya agar tak memberitahukan identitasnya pada siapapun, karena tak ada seorang pun yang dapat dipercaya disini.
Suara krekk nyaring membuatnya tersadar dari pikiranya yang saat ini benar-benar kacau. Seorang gadis berambut coklat merintih kesakitan setelah dia mencoba membuat para instruktor terkesan dengan aksi akrobatik yang ditunjukanya ketika membidik sebuah boneka yang dijadikan sebagai objek. Persendian di mata kaki sebelah kirinya mungkin bergeser. Segera petugas medis membawa gadis berambut coklat itu dengan tandu. Acara pun berlanjut seolah-olah tak pernah ada masalah sebelumnya. Menma segera mendapatkan instruktor dengan kemampuanya menjinakan peledak hanya dalam hitungan menit. Hinata entah bagaimana juga sudah mendapatkan instruktor, pemuda berambut pirang bernama Naruto. Sekarang giliran Gaara, pemuda berambut merah itu menunjukan kebolehanya dengan teknik menggunakan pedang, maka ia yakin jika Gaara takkan kesulitan menemukan instruktor.
Sakura tak bisa fokus dengan apa yang dilihatnya, sekarang ia benar-benar takut. Apa yang harus dilakukanya untuk tetap bertahan dalam dunia yang baru saja ia masuki. Ia tak punya kemampuan khusus. Tanganya berkeringat dingin. Ini seperti mimpi buruk baginya.
Sudah larut malam saat giliranya tiba. Semua orang terlihat tak lagi mempunyai antusias yang menggebu seperti beberapa jam yang lalu. Bahkan, beberapa orang yang sudah mendapat instruktor pergi meninggalkan ruangan. Sakura berjalan dengan perasaan tak menentu. Ia melihat begitu banyak alat-alat yang digunakan untuk menunjukan kemampuan para siswa. Mereka harus memilih salah satu yang paling mereka kuasai, tapi tak ada satupun yang Sakura kuasai. Dengan tangan gemetar yang coba disembunyikanya, akhirnya ia meraih sebuah pemukul dari kayu dengan panjang sekitar 42 inchi. Ia melihat keadaan sekitarnya, beberapa instruktor melihatnya dengan bosan, beberapa memperhatikanya dengan seksama dan sisanya sepertinya tak peduli. Disisi yang berlawanan dapat dilihatnya Tayuya sedang berbicara pada seorang pemuda berambut hitam yang kelihatanya bosan. Tangan kananya yang memegang stylus sibuk mencoret-coret portscreen di tangan kirinya.
Apa yang harus dilakukanya? Keringat dingin bercucuran di dahi dan pelipisnya.
Wusss!!!
Seperti mimpi, kejadian kemarin malam terulang kembali. Bedanya, stik ini dalam bentuk logam yang runcing dan itu jelas dilemparkan oleh Kawaki sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri sekarang. Ia tak boleh menghindar sekarang, apalagi bertindak bodoh dengan tidak melakukan usaha apapun untuk mengatasi logam runcing yang berlari ke arahnya dengan kecepatan yang mengagumkan itu. Ia marah karena merasa lemah dan tak tahu apa-apa.
Dakkk....
Ia memukul logam itu dengan kekuatan maksimal yang dimiliki kedua tanganya. Ia benci dijadikan seperti mainan. Ia benci ayah dan ibunya yang tak memberitahunya tentang semua ini. Ia benci mereka karena membiarkanya berjuang sendirian di tempat jauh dan tak ada seorangpun yang akan menolongnya. Ia benci Konoha yang seperti neraka. Ia benci orang-orang yang membuat tatanan dunia baru yang tak mengenal rasa kemanusiaan dan belas kasihan. Ia benci Kawaki, ia benci Menma, ia benci Tayuya dan ia benci semua orang.
Tongkat kayunya ia biarkan jatuh ke lantai yang dingin dengan bunyi nyaring. Tanganya gemetar, pikiranya kalut. Bahkan ia tak bisa mendengar suara terkesiap lalu hening dari semua orang yang ada di ruangan. Ia ingin pulang, berada dalam dekapan hangat ibunya. Tempat dimana ia selalu merasa nyaman. disini bukan tempat untuknya, ini benar-benar membuatnya merasa takut.
Perlahan ia melihat kearah dimana stik runcing itu berakhir. Jantungnya seolah berhenti. Stik itu menancap dengan mantap ditengah-tengah lambang ANBU. Namun bukan itu yang yang membuatnya merasa ketakutan. Hanya sekitar dua inci dari stik tersebut, Tayuya berdiri dengan kaku. Wajahnya terlihat pucat karena syok. Jika sekitar dua inchi saja Tayuya bergeser ke kanan maka dapat dipastikan stik itu menembus kepalanya dengan sempurna.
Sakura merasa ini seperti mimpi, ia hampir saja menjadikan sang ketua dewan siswa sebagai objek sasaranya. Ini tidak bagus untuk nasibnya kedepan. Terlihat seperti balas dendam setelah tadi siang Tayuya menghukumnya, walaupun sebenarnya ini murni kecelakaan. Apa yang harus dilakukanya? ia sungguh bingung sekarang.
"Maafkan aku senpai. Aku tak sengaja melakukanya," Sakura membungkuk sedikit lebih lama kearah Tayuya. Namun sekarang wajah syok itu telah berganti dengan senyum menakutkan bagi Sakura.
"Sasaran yang sangat bagus, Sakura."
Kata-kata itu terdengar seperti sebuah sindiran di telinganya. Ia tak berani menatap wajah perempuan berambut merah muda gelap yang kini berjalan ke arah para instruktor berkumpul.
"Perhatian untuk semua siswa tingkat satu, khususnya bagi yang belum mendapatkan instruktor agar tidak khawatir. Kami akan mendiskusikanya segera dan akan mengumumkannya besok. Sementara untuk jadwal latihan kalian dapat melihatnya disebelah pintu kamar masing-masing, karena teknisi ANBU baru saja selesai memasangnya. Sekarang sudah larut malam, jadi kembali ke kamar masing-masing dan segera tidur. Ingat jadwal kalian padat, jadi gunakan waktu istirahat ini sebaik-baiknya," Hyuuga Neji berkata tegas.
Sakura berjalan diantara para siswa tingkat I dengan lemas memikirkan hukuman yang akan diterimanya esok hari.
"Hey, Sakura. Kau lihat bagaimana raut wajah Tayuya setelah kau jadikan sasaran bidikanmu kan? Hahaha..., Aku sungguh bangga padamu," Ino tiba-tiba berjalan disampingnya sambil merangkul pundaknya. Tingginya tak begitu jauh dari Ino, hanya sedikit lebih pendek.
"Kau pikir ini lucu? Aku sedang dalam kesulitan."
"Tak usah khawatir, dia tak bisa menghukumu hanya karena masalah tadi. Lagipula dia tak terluka kan? Lain lagi masalahnya jika kepala besarnya itu...."
"Hentikan Ino, aku tak ingin membahas masalah ini lagi."
"Ya baiklah."
"Sakura-chan, tadi itu sangat hebat. Kau membidik lambang ANBU itu dengan sempurna. Bagaimana jika kau mengajariku cara membidik yang benar?" Konohamaru muncul diantara Sakura dan Ino. Dia menyingkirkan tangan Ino yang berada di pundak Sakura , kemudian tanganya masing-masing merangkul pundak Sakura dan Ino. Dapat Sakura rasakan ibu jari Konohamaru mengusap pundaknya perlahan membuatnya sedikit risih. Sakura hanya diam saja tak menanggapi kata-kata Konohamaru.
"Benar-benar jenius," suara itu berasal dari belakangnya.
Menma. Dia adalah orang terakhir yang ingin dijumpainya saat ini. Entah apa salahnya, Menma sepertinya tak menyukainya. Dengan kesal ia melepaskan rangkulan Konohamaru dan berjalan dengan cepat mendahului yang lainya. Lebih baik ia sendiri daripada bersama Menma. Pemuda itu selalu membuatnya naik pitam. Berdebat dengan Menma saat ini hanya memperburuk suasana hatinya.
***
Tidurnya benar-benar benar-benar pulas karena kelelahan. Badanya sekarang terasa sakit semua. Sebenarnya ia ingin lebih lama di tempat tidur tapi ia ingat sekarang ia di Konoha, jadi ia memaksa dirinya bangun untuk membersihkan diri dan bersiap-siap memulai harinya.
Sakura melihat sebuah layar berukuran sepuluh inchi yang berada di samping pintu kamarnya. Sebuah lampu notifikasi merah berkedip dengan kecepatan konstan. Ketika ia menyentuhnya, layar hitam itu menyala dengan tulisan 'you have a message'. Dengan cepat ia membukanya, harap-harap cemas jika ia akan mendapatkan sebuah detensi atas perbuatanya semalam.
'Bangun pemalas! Datanglah ke ruang tiga belas jam sepuluh tepat' dibawahnya terdapat inisial S. Ia melihat jam dinding di kamarnya yang menunjukan angka sebelas dan tiga. Pukul 11.15.
"Ya Tuhan, tidaktidaktidak," ia menggeleng-geleng frustasi. Siapapun orang yang mengiriminya pesan itu pasti sudah pergi dari ruang 13. Ia bertanya-tanya dalam hati mungkinkah S ini adalah instruktor yang memutuskan untuk memilihnya? Tapi kemudian pikiran rasional lain muncul. S ini adalah orang yang akan menghukumnya. Lagi pula siapa yang mau memilih siswa bodoh sepertinya? ia melihat jadwalnya untuk hari ini. Ia melewatkan sarapan jam 08.00 - 08.30, pengumuman instruktor jam 09.00 – 09.15, pengenalan materi dasar siswa tingkat I jam 09.15 – 10.00 serta simulasi latihan bersama instruktor masing-masing jam 10.00 - 11.00. Saat ini semua siswa sedang istirahat.
Sakura berlari mencari ruang 13 untuk memastikan jika ruangan itu kosong. Dan benar saja seperti dugaanya, sudah tak ada orang di sana karena pintunya terkunci. Maka dengan lesu ia berjalan menuju kafetaria, perutnya sudah kelaparan sejak tadi.
Di kafetaria semua orang memandangnya seperti seorang kriminal. Sepertinya ia sudah menarik perhatian semua orang. Ia tahu beberapa gadis sedang berbisik-bisik membicarakanya. Sepertinya ia harus berpura-pura tuli. Ia melihat Ino yang melambaikan tangan padanya. ia juga melihat Hinata dan Chouji satu meja dengan Ino. Sakura bersyukur tak ada Konohamaru maupun Menma di sana yang akan membuat harinya semakin buruk.
"Astaga, kau benar-benar baru bangun? Semua orang sedang membicarakanmu. Dan sepertinya hanya kau yang belum mendapatkan instruktor," Ino melihatnya dengan pandangan prihatin.
"Benarkah? Bagus sekali. Jadi aku satu-satunya siswa yang tidak mempunyai instruktor?" dengan kesal Sakura menggigit roti isi di hadapanya.
"Dewan siswa sedang membicarakan masalah ini Sakura, jadi tak perlu khawatir," Hinata mencoba menenangkan Sakura.
"Oh, ya baiklah. Ngomong-ngomong apakah Neji Hyuuga itu saudaramu?" Sakura baru ingat jika ia ingin bertanya tentang Neji pada Hinata.
"Ya, kami saudara sepupu."
Sakura mengangguk kemudian bertanya kembali,"kalau Naruto-senpai?"
Tiba-tiba saja muka Hinata berubah menjadi merah. Dengan tergagap ia menjelaskanya pada Sakura yang menanggapinya dengan tertawa.
Sisa sore itu berlalu sangat membosankan bagi Sakura. Ia hanya dapat melihat teman-temanya yang berlatih bersama instruktor masing-masing lewat kaca. Ia merasa seperti anak ayam yang berada di antara ribuan serigala. Tapi setidaknya ia sedikit lega karena saat bertemu dengan Tayuya, seniornya itu hanya tersenyum tak mengatakan apapun. Sakura sangat merasa bersalah padanya, tapi sepertinya gadis itu memang sudah tak mempermasalahkanya.
Pada pukul tujuh malam lampu indikator pesan di kamarnya berkedip-kedip. Ia segera melihatnya.
'Ruang 13 sekarang!'
Maka tanpa membuang waktu lagi, ia segera mengikat rambutnya menjadi ekor kuda dan mengenakan jaket hitam sambil berlari menuju ruang 13 karena takut akan membuat orang itu menunggu lama. Ruang 13 terletak di paling ujung lantai teratas geduang sebelah barat. Ruangan itu benar-benar seperti dirinya. Berbeda jauh dari ruangan-ruangan yang lain yang saling berjajar rapi sesuai urutanya, ruangan 13 seharusnya berada diantara ruangan 12 dan 14, namun pada kenyataanya ruangan itu menyendiri. Berada di paling ujung, sendirian, kesepian. Ia menghela nafas lelah.
Sesampainya di depan ruangan dengan nomor 13 itu ia sedikit ragu-ragu untuk mengetuknya. Ia mengatur nafas dan merapikan jaketnya.
Tok! Tok!
Tak berapa lama suara bip dari dalam terdengar. Kemudian pintu bercat coklat muda itu membuka perlahan. Seseorang berdiri di hadapanya. Sakura pun mendongak. Dan nafasnya langsung tercekat.
...
TBC

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANBU ACADEMY CHAPTER 05