ANBU ACADEMY CHAPTER 03
Naruto © Masahi Kishimoto
DLDR!
Uchiha Sasuke menjulang dihadapanya. Dia adalah orang terakhir yang Sakura pikirkan ketika menebak-nebak siapakah gerangan yang memberinya pesan. Sebelah tanganya berada di saku jaket, sementara tangan yang lain memegang pintu. Mata hitam tajamnya memandang Sakura tanpa emosi. Namun bagi Sakura, dia adalah malaikat penyelamatnya. Sebenarnya ia bahagia dapat bertemu dengan Sasuke sehingga ia dapat mengucapkan terima kasih yang belum sempat diucapkanya, tetepi ia juga bingung ada urusan apa sehingga Sasuke secara pribadi meminta dirinya datang menemui pemuda stoic itu.
Sakura melangkahkan kaki ke dalam ruangan yang ternyata cukup luas itu setelah Sasuke membuka pintu lebar-lebar. Bunyi klik pelan terdengar dari arah belakang. Temboknya berwarna biru muda segar. Di bagian belakang ruangan terdapat 2 pintu. Satu pintu berbahan kayu biasa, satu pintu yang lain berteralis baja. Terdapat satu sofa dengan meja kecil di pojok ruangan serta 2 kursi. Selain itu, ruangan kosong. Sementara di sisi kananya terbentang dinding kaca sehingga dapat dilihatnya kehidupan Konoha di malam hari. Lampu-lampu di kejauhan terlihat seperti titik-titik cahaya yang gemerlapan. Kendaraan berlalu-lalang mengingatkanya akan kehidupan diluar sana.
Sakura berbalik menghadap Uchiha Sasuke. Pemuda itu sedang berjalan ke arahnya kemudian berhenti di hadapanya.
"Terima kasih untuk bantuanya waktu itu senpai," Sakura membungkuk pada pemuda itu. Senyum lebar tak bisa berhenti ia tunjukan walau tampaknya sang Uchiha sama sekali tak tertarik dengan kata-katanya.
"Sakura, aku Uchiha Sasuke. Kau tahu kenapa aku memintamu datang kemari malam-malam begini sementara teman-teman yang lain mungkin sedang beristirahat?" tanpa basa-basi pemuda itu langsung berbicara mengenai maksudnya.
Senyum Sakura segera lenyap digantikan ekspresi antara bingung dan cemas. 'jangan-jangan ini tentang Tayuya' batinya kalut. Ia menggeleng.
"Mulai sekarang aku adalah instruktormu."
Sakura hampir tak mempercayai indra pendengaranya. Ia mendongak menatap pemuda yang menatapnya tetap tanpa ekspresi dengan senyuman lebar. Senior tampan itu adalah instruktornya. Orang yang akan menemaninya latihan setahun ke depan. Jiwa fangirl-nya mulai menari-nari sambil terkikik senang.
"Benarkah?"
"Aku terpaksa menerimanya."
Senyum Sakura kembali menghilang. Ia melihat pemuda dihadapanya mengambil portscreen dari atas kursi, kemudian mulai sibuk dengan benda datar itu.
"Kau banyak melakukan pelanggaran. Belum genap 17. Kau seharusnya belum dapat memasuki akademi ANBU,itu menyalahi aturan," Sasuke menggeser layar portscreen di tanganya.
"Aku akan berusia 17, Maret nanti," Sakura mencoba membela diri.
"Datang paling akhir saat larut malam sementara para siswa yang lain datang beberapa hari bahkan beberapa minggu sebelum dirimu. Tidak mengikuti upacara penyambutan siswa baru padahal kau adalah seorang siswa baru. Kau bahkan tidak tahu jika kedatanganmu membuat semua ANBU menjadi lebih sibuk mengadakan pertemuan," Sasuke kembali meneruskan kata-katanya sama sekali tak terpengaruh oleh kata-kata Sakura.
Tak ada yang bisa dilakukan Sakura kecuali menunduk melihat lantai hitam mengkilap tempatnya berpijak. Ia tak tahu apa yang sedang pemuda itu bicarakan.
"Kau bermaksud menjadi tak terlihat, tapi sekarang kau menjadi pusat perhatian, itu salah satu hal bodoh yang kau lakukan," Sasuke manatapnya dengan seksama. "Kau seharusnya tak di sini."
"Apa maksudmu?" ia tak tahu kemana arah pembicaraan pemuda di hadapanya.
Sasuke meletakan portscreen itu kembali keatas kursi. Tanganya ia masukan ke dalam saku celana. Matanya menelisik gadis merah muda yang jauh lebih pendek darinya.
"Kau tidak terbiasa dengan dunia kami jika dilihat dari kelakuanmu. Mengajarimu menjadi setingkat dengan siswa-siswa lain benar-benar sesuatau yang mustahil dilakukan."
Mata Sakura melotot. Udara di sekitarnya terasa menyengat, membuatnya merasa tidak nyaman. Pemuda ini, apakah secara tak langsung sedang mengatakan bahwa ia lemah. Ia sama sekali tak suka dianggap lemah walau kenyataanya demikian. Ia ingin seperti ayahnya, tahan banting.
"Besok pagi kita mulai latihan jam 7 tepat. Aku tak mau mengajari seorang pemalas yang tidak berguna."
Rasa kagum terhadap pemuda berambut emo itu langsung tergantikan dengan rasa sebal. Sifat pemuda itu berbanding terbalik dengan wajahnya yang rupawan. Jadi dia memanggilnya hanya untuk mencacinya. Tahu apa pemuda itu tentang dirinya. 'Dasar malaikat pencabut nyawa' batinya kesal, nafasnya memburu menahan amarah. Tanpa berkata-kata ia berbalik berniat meninggalkan ruangan.
"Aku menunggumu sampai jam 12 siang tadi."
Ia berhenti dan berbalik melihat Sasuke yang kini tengah memandangnya dengan tampang yang sedikit menakutkan.
"Benarkah? Pintunya terkunci, ku kira kau sudah pergi," sekarang ia merasa bersalah.
"Aku memang selalu menguncinya. Sekarang pun kau tidak akan bisa keluar tanpa seijinku."
Kata maaf diujung lidahnya kembali ia telan. Laki-laki ini benar-benar keterlaluan.
"Aku tak suka seseorang yang menunjukan kelemahanya. Jadi jangan menjadi lemah hanya karena kau seorang wanita. Jangan tunjukan air matamu padaku. Aku tak pernah membedakan perlakuanku hanya karna perbedaan gender. Jadi jangan harap aku akan memberimu belas kasihan hanya karena kau seorang wanita, bagiku pria ataupun wanita sama saja."
Sakura mendengus mendengar kata-kata pemuda kasar itu. Oh, betapa ia ingin berbicara dengan ayah maupun ibunya, tapi bagaimana caranya?
"Tidak ada kata-kata mengeluh, tidak menggunakan senjata sembarangan ketika latihan. Ku dengar kau hebat dalam teknik akurasi?" Sasuke duduk di atas kursi tinggi. Sebelah kakinya ia tumpukan ke atas kaki yang lain. Cahaya yang remang-remang membuatnya makin terlihat mempesona. Sakura menyadari apa yang Ino katakan benar, tak ada yang bisa menolak pesona seorang Uchiha Sasuke. Termasuk dirinya, bahkan ia terpesona saat malam pemuda itu menyelamatkanya.
"Aku tak sengaja melakukanya," ia menelan ludah pahit.
"Begitukah? Jangan lupa besok pukul 7."
"Itu waktu sarapan, semua orang pun memulai aktifitasnya pukul 8, mengapa aku harus memulainya lebih awal?" bagaimana mungkin pemuda itu mengatakanya seolah-olah itu adalah hal yang paling menyenangkan.
"Seorang trainee adalah tanggung jawab trainer masing-masing, kau adalah trainee-ku jadi aku bebas menentukan apa yang harus maupun yang tak harus kau lakukan."
Belum sempat Sakura mengatakan sesuatu, bunyi nada dering ponsel menginterupsi pembicaraan.
"Ya."
"Aku belum memastikan," Sasuke melirik Sakura yang terus menatapnya.
"Aku tahu. Hn."
"Sakura, aku ada pertemuan penting dengan Tetua ANBU, kau kembalilah ke kamarmu."
Walau sangat kesal, tapi tak ada yang bisa dilakukan Sakura kecuali menuruti perintah Sasuke. Di luar, keadaan gedung barat begitu sunyi. Ia bisa mendengar suara sneakernya yang saling bergesekan di lantai. Koridor yang dilewatinya terasa begitu kesepian dan menyedihkan.
"Cobalah tidak menonjolkan diri di depan orang-orang jika kau masih ingin hidup," Sasuke mendahuluinya dengan langkah lebar.
Untuk sesaat sakura berhenti dan menatap punggung pemuda yang semakin jauh di hadapanya. Kemudian dengan langkah yang berat ia mengikuti jejak pemuda itu.
***
Pagi itu Sakura kembali bangun kesiangan akibat matanya tak mau terpejam sampai menjelang pagi. Alhasil kini dirinya buru-buru menuju kafetaria yang sudah terisi beberapa siswa yang sedang sarapan. Berapa ada yang menyapanya, tapi ada juga yang terang-terangan mencibirnya. Seorang gadis berkacamata beserta dua orang temanya berdiri di samping kursinya dengan tangan yang di lipat di depan dada.
"Aku tak tahu harus merasa senang atau sedih pada teman kita yang satu ini. Hanya karena kau tidak sengaja melakukanya, kau jadi tidak memiliki seorang trainer," Sakura yang sedang menikmati sarapanya hanya mengangkat alis heran. Sepertinya kabar Sasuke yang ditunjuk sebagai trainernya belum menyebar, ia juga belum mengatakanya pada siapapun.
"Kau pasti merasa kesal dengan Tayuya kan? Perempuan yang selalu merasa paling hebat itu memang perlu diberi pelajaran. Jika kau mau bergabung denganku, aku akan membantumu melawan gadis yang selalu merasa dirinya paling sempurna itu Sakura," Sakura sama sekali tak terpengaruh dengan kata-kata gadis berambut merah yang kini duduk di depanya. Uzumaki Karin, gadis yang terang-terangan Ino benci sekarang sedang mencoba merekrutnya sebagai apa? Sekutu? Bawahan? Anak buah? Apapun itu, Sakura benar-benar tidak tertarik.
"Uzumaki-san, sebenarnya kau salah tentang satu hal di sini. Aku sama sekali tak menaruh dendam ataupun niat jahat terhadap Tayuya-senpai. Maaf, tapi aku sedang buru-buru," dengan cepat ia memakan sarapanya. Ia kembali menyandang ransel hitamnya di punggung dan berlari-lari menuju gedung barat.
"Beraninya, gadis sialan itu. Awas saja kau Sakura!" Karin berdiri dan memicingkan matanya pada Sakura yang berlari menjauh.
***
Pada siang hari pun gedung barat terlihat sepi. Beberapa siswa kelas dua tampak membawa ransel yang sepertinya berisi beban berat. Mereka berlarian menuju lapangan terbuka di belakang gedung. Sakura cepat-cepat menuju ruang 13. Seperti biasa pintu itu terkunci rapat, namun Sakura yakin pria arogan itu ada di dalam. Maka ia menggedor pintu itu dan berteriak memanggilnya. Saat pintunya terbuka, wajah datar Sasuke segera menyambutnya.
"Lain kali gunakan tombol di sebelah pintu jika akan masuk!" Pagi ini Sasuke mengenakan pakaian trainsuit standar yang di lapisi jaket hitam. Diam-diam sakura mengagumi pemuda itu meskipun sikapnya sangat menyebalkan.
"Mana ku tahu," Sakura meletakan ranselnya di atas sofa. Ia ragu, latihan seperti apa yang akan dijalaninya saat ini. Namun latihan apapun dengan pemuda seperti Sasuke pasti takan menyenangkan. Saat Sasuke terus mengawasinya ia pura-pura mengencangkan tali sepatu dan juga kunciran rambutnya.
"Aku sudah mengira jika kau akan terlambat seperti biasa."
"Kau pikir salah siapa aku tidur larut malam?" Sakura bersungut-sungut, namun pemuda di hadapanya hanya menaikan sebelah alisnya.
"Jam sepuluh malam sudah larut? Pantas saja, kau itu masih anak-anak."
Sakura mendelik mendengarnya. Beraninya Sasuke menyebutnya anak-anak.
"Kemarilah."
Dengan perasaan kesal Sakura mendekati Sasuke yang memegang portscreen di tangan kirinya. Ia baru menyadari jika ruangan yang semalam kosong itu kini terdapat benda-benda yang Sakura pun tak tahu apa namanya. Tapi Sakura jamin semuanya tak ada yang menyenangkan untuk di coba.
"Kemarikan tanganmu," reflek Sakura memegangi tanganya sendiri yang di perban dan masih terasa sakit hingga saat ini. Ia takut jika Sasuke akan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan guru Kakashi. Namun sebuah tangan besar segera menggapai tanganya dan menempelkanya pada layar portscreen. Hangat. Perasaan itu entah datang dari layar portscreen atau....
Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya tak bisa fokus. Ia juga dapat merasakan rasa panas yang mulai menjalar ke wajahnya. Namun rasa hangat itu hanya terasa sebentar saja, ketika tangan besar itu melepaskanya rasa hangat itu pun hilang. Sakura pun mencoba kembali dari lamunan absurdnya.
"Untuk apa itu?"
"Agar kau bisa masuk tanpa harus merepotkanku," Sasuke menjawab sambil menatap layar datar di tanganya.
"Kau bisa memulainya," Sakura bingung dengan apa yang Sasuke katakan.
"Apa?"
"Pemanasan," kali ini Sasuke memandangnya. Sakura menjadi salah tingkah karena tak tahu apa yang harus dilakukanya. Mungkin jika dengan orang lain Sakura akan merasa khawatir bahkan takut, namun entah mengapa pemuda di depanya tak tampak menakutkan di matanya.
"Kau bisa lari terlebih dahulu," untuk sesaat Sasuke seperti menyadari sesuatu kemudian meletakan portscreenya. Ia berjalan mendekati alat olah raga yang sekilas mirip treadmil tapi di sekelilingnya terdapat pembatas. Sasuke memencet tombol merah dan pembatas itu langsung terbuka. Ia mengedikan kepalanya memberi isyarat agar Sakura segera naik keatas alat itu. Dengan ragu Sakura memegang pinggiranya. Dan pembatas itu kini telah tertutup kembali, mengurung Sakura di dalamnya. Layar di depanya mulai menyala dan menampilkan hitungan mundur dimulai dari angka 10.
"Bersiaplah," Sakura tak dapat melihat Sasuke yang ada di belakangnya. Ketika angka satu menghilang dari layar, tempat dibawah kakinya mulai bergerak perlahan. Sakura hampir terjatuh karena kaget, tapi kemudian ia mulai berlari-lari kecil.
Setengah jam berlalu dan Sakura mulai merasa kelelahan. Tenggorokanya mulai terasa kering. Sekarang ia menyesal, tadi saat sarapan ia tak minum air putih terlebih dahulu.
"Sasuke-senpai, sampai kapan aku harus berlari?"
"Kau baru dapat 10 km," hanya itu jawaban Sasuke yang membuat Sakura lemas.
Lima menit kemudian Sakura kembali bertanya.
"Bolehkah berhenti sebentar? Aku merasa lelah," Sakura berharap pemuda itu mau mengabulkan permintaanya. Walau hanya sebentar saja ia akan sangat berterima kasih.
"Jangan terus merengek Sakura, aku benci seorang yang malas berusaha."
Apa katanya? Merengek? Malas berusaha? Sakura merasa geram. Ia benar-benar merasa kelelahan dan kehausan seperti hampir mati. Dan pemuda angkuh itu menganggapnya malas berusaha? Bagaimana mungkin jika 10 km adalah rekor tertingginya dalam berlari selama 17 tahun. Rasanya ia ingin menghantam kepala ayam itu.
Akhirnya Sakura dibolehkan berhenti setelah memelas jika ia akan pingsan. Sakura segera jatuh terkulai di lantai. Jaketnya ia lepas kemudian ia buang sembarangan. Bajunya basah oleh keringat. Ia merasa segar saat kulit telanjangnya menempel pada dinginya lantai di bawahnya. Ia memejamkan matanya dan mencoba mengatur nafasnya yang memburu. Dan matanya segera terbuka kala ia merasakan benda dingin menempel di pipinya. Sasuke ternyata sedang jongkok di sampingnya dan menempelkan sebotol air dingin pada pipinya. Sakura segera bangkit dan menyambar botol itu sambil mengucapkan terima kasih. Hanya dalam hitungan menit air itu tandas di minumnya.
"Apakah semua orang juga sedang melakukan latihan yang sama?"
"Tidak. Sudah kubilang, trainee adalah tanggung jawab trainer masing-masing. Istirahat 15 menit, setelah itu lanjut latihan."
"Apa? Bagaimana mungkin istirahat hanya 15 menit?" Sakura kembali menarik pemikiran bahwa Sasuke walau kejam tapi baik. 'Monster kejam sialan, dia tak punya perasaan' batinya.
"Kau sudah istirahat terlalu lama. Kembali latihan, jangan jadi lamban hanya karena berlari beberapa km."
Sakura meremas-remas botol air minumnya membayangkan jika itu adalah instruktornya kemudian ia membantingnya ke tempat sampah dengan tenaga supernya. Namun sayangnya meleset, botol yang bentuknya tak beraturan itu hanya terkapar di lantai membuat Sakura bertambah kesal.
***
Latihan selesai pukul satu siang. Tampang Sakura benar-benar kelelahan dan ia juga sudah mulai lapar. Sasuke benar-benar memaksanya menguras habis tenaganya. Rasa-rasanya ia tak sanggup berjalan dari gedung barat menuju kafetaria.
Semua meja di kafetaria telah penuh dengan siswa senior maupun junior yang sedang makan siang. Sakura kesulitan menemukan Ino maupun Hinata disana. Tapi kemudian ia melihat Chouji yang sepertinya akan menambah makananya.
"Chouji, kau lihat Ino dan Hinata?"
"Oh, kau Sakura. Kami duduk di meja paling pojok, tapi sayangnya sudah penuh," Chouji menunjuk kearah pojok ruangan yang terhalang oleh beberapa siswa berbadan tinggi besar. Sakura mengangguk paham walau ia sedikit kecewa. Padahal ia ingin curhat pada Ino dan Hinata.
Sakura kemudian mencari tempat yang masih kosong. Kebanyakan tempat yang kosong adalah meja yang ditempati oleh para siswa senior. Sepertinya mereka sengaja melakukanya, karena sudah pasti tak ada siswa junior yang berani duduk bersama seniornya.
Ada satu tempat kosong di sebelah Uzumaki Karin dan satu tempat kosong lagi di sebelah Uzumaki Menma yang dengan serakahnya menempatkan kakinya di tempat itu, sehingga secara tak langsung melarang orang lain duduk di sebelahnya. Sebenarnya Sakura tak ingin memilih salah satu diantara pilihan yang ada. Ia lebih memilih duduk sendiri daripada duduk dengan orang yang sama sekali tak mempunyai rasa simpati. Tapi ia tak punya pilihan lain, sehingga dengan sangat terpaksa ia mendekati Menma tanpa mengatakan sepatah katapun berharap pemuda itu mau menunjukan sisi jentelnya sebagai seorang lelaki. Tapi pemuda itu hanya melihat padanya sekilas kemudian meneruskan makanya. Sakura mengumpat dalam hati, betapa ia ingin menghajar pemuda itu hingga babak belur. Sebagai seorang laki-laki Menma telah menjatuhkan martabatnya menurut Sakura.
"Uzumaki, Sakura akan duduk di kursi itu," Sabakuno Gaara yang berada di seberang Menma angkat bicara. Gaara ternyata memang tanggap tak seperti Menma.
"Huh? Dia tak mengatakanya mana ku tahu jika dia akan duduk di sini," tanpa menurunkan kakinya Menma terus lanjut makan. Tapi kemudian Konohamaru dengan keras menampol kaki Menma hingga jatuh ke lantai. Dengan menggunakan tisu Konohamaru membersihkan tempat duduk itu sebelum menyilakan Sakura untuk duduk. Setidaknya walaupun playboy tapi bagi Sakura Konohamaru lebih baik seribu kali dari Menma.
"Terima kasih Konohamaru."
"Tak masalah," lelaki itu dengan santainya merangkul pundaknya. Bau parfum yang telah bercampur dengan keringat memenuhi indra penciumanya membuatnya ingin segera melepaskan rangkulan itu tapi Sakura merasa sedikit tidak enak karena sepertinya kini semua mata di meja itu tertuju padanya.
Sepanjang Sakura menghabiskan makan siangnya, Menma dan Gaara sepertinya saling memandang dengan tatapan ingin saling membunuh. Sementara Konohamaru terus memandangnya dengan tatapan yang Sakura sendiri tak ingin mengartikanya, seolah-olah Sakura adalah mahluk asing dari negeri antah-berantah.
Sakura menyadari seorang gadis berambut pirang di sebelah Gaara yang menatapnya tajam. Shion. Apapun arti tatapan itu, menurut Sakura itu bukan pertanda bagus.
Ketika Sakura selesai makan, kafetaria sudah tak seramai tadi. Hanya tinggal beberapa orang saja yang sepertinya ingin mengobrol dengan teman atau hanya untuk sekedar melepas penat setelah latihan. Ia kemudian mencari Ino dan Hinata, namun sepertinya mereka telah pergi.
Sakura kembali menyandang ranselnya dan keluar kafetaria. Hampir saja ia menabrak lelaki berambut pirang yang baru datang bersama Uchiha Sasuke.
"Ow, kau tak apa Sakura?"
"Ya, aku baik-baik saja."
"Aku Naruto Uzumaki," lelaki itu mengulurkan tanganya. Kemudian mereka berjabat tangan.
"Sakura."
"Ya, aku sudah tahu. Kau adalah gadis yang hebat, jadi semua orang juga sudah tahu siapa dirimu?"
"Benarkah?" Sakura tak dapat menyembunyikan rasa cemasnya. Benarkah jika semua orang sudah mengetahui jika dirinya adalah Haruno Sakura?
"Hahaha... jangan khawatir, Sakura-chan. Aku dan Teme akan makan siang, kau mau bergabung dengan kami?"
"Terima kasih, tapi aku baru saja makan senpai."
"Sudahlah Dobe, aku mau makan," Sasuke masuk ke dalam diikuti Naruto, yang sebelumnya mengucapkan sampai jumpa pada Sakura.
"Teme? Dobe? Sebutan macam apa itu?" Sakura berbicara sendiri, kemudian meneruskan langkahnya.
Sakura merasa sedikit bertenaga setelah makan dan minum, namun tetap saja rasa pegal-pegal di seluruh tubuhnya tak kunjung hilang. Apalagi tadi sewaktu berlatih dua kali ia dijatuhkan ke matras yang keras oleh Sasuke. Pundak sebelah kirinya sekarang mulai terasa sakit, dan ia tak bisa membayangkan apa yang akan ia rasakan nanti malam. Belum lagi rasa perih luka sayatan di pergelangan tanganya yang kembali berdarah. Bagaimana luka itu akan sembuh jika setiap saat ada saja yang membuatnya kembali terbuka dan berdarah.
Dari arah depan Matsuri, gadis berambut coklat pendek berlari-lari memanggil namanya.
"Sakura, Sakura...," ia terengah-engah.
"Ada apa Matsu?"
"Kau harus segera melihat Gaara dan Menma di lapangan belakang."
"Ada apa dengan mereka berdua?" Sakura sedikit kebingungan, namun Matsuri segera menyeretnya berlari. Apa lagi sekarang? Di saat ia ingin istirahat sebentar tapi ia harus kembali menguras tenaganya dengan berlari-lari seperti di kejar anjing galak.
"Apa yang terjadi Matsuri?"
"Mereka berkelahi karena kau?"
"Kenapa aku?"
"Masalah di kafetaria tadi sepertinya terus berlanjut," Sakura tak habis pikir dengan anak laki-laki. Ia segera memacu langkahnya dengan lebih cepat.
Sesampainya di lapangan belakang, ternyata apa yang dikatakan Matsuri benar. Banyak sekali anak-anak yang menonton dan mengerubungi Gaara dan Menma. Sakura segera mendekat, namun kesulitan menembus penonton yang berjubel. Mereka bersorak meneriakan nama Menma dan Gaara berulang-ulang.
"Kalian berdua hentikan! Hentikaaan!"namun suara Sakura teredam oleh suara-suara di sekitarnya.
Sinar matahari yang terik tak membuat semangat mereka menurun. Bau debu dan keringat yang membubung terbawa angin kian menyesakan dada. Dapat Sakura lihat masing-masing Menma maupun Gaara telah di penuhi keringat yang mengucur deras. Pada masing-masing sudut bibir mereka mengeluarkan darah. Rambut panjang Menma kini acak-acakan. Sakura sekuat tenaga berusaha menerobos penonton yang mengelilingi Menma dan Gaara sebelum semuanya semakin buruk.
Sakura melihat tangan Menma yang terkepal siap menghajar Gaara. Sakura panik saat dirinya tak bisa menembus kerumunan penonton. Akhirnya ia memilih menunduk menerobos lewat celah-celah kaki para penonton. Dan ia segera berdiri di belakang Gaara tepat ketika Menma menghantamkan tinjunya pada rahang Gaara. Namun dengan cepat Gaara menghindar dari pukulan maut itu.
Bugh! Duakkk...
"Aaaaaa...," suara anak-anak perempuan menjerit memenuhi lapangan yang penuh dengan aroma hormon pertumbuhan itu.
Dan Sakura melayang, ia mati rasa. Kepalanya pening. Ia tak dapat fokus dengan apapun, tidak dengan kejadian di sekitarnya tidak juga dengan apa yang terjadi padanya. Matanya terpejam, ia hanya dapat mendengar suara bising orang-orang menjerit dan berteriak di sekelilingnya. Kemudian gelap.
...
TBC
Komentar
Posting Komentar