ANBU ACADEMY CHAPTER 04
Naruto © Masashi Kishimoto
DLDR!
Tubuhnya terasa berat. Ia dapat mendengar suara-suara bising yang tak begitu jelas. Sakit di sekujur tubuhnya makin terasa nyata, tapi bagian yang paling terasa sakit adalah kepalanya. Sekarang kepalanya terasa berdenyut-denyut semakin membesar. Sakura membuka matanya dan mencoba fokus dengan keadaan sekitar. Ia menyadari mata kirinya kini terhalang oleh sesuatu sehingga tak bisa membuka. Mengandalkan sebelah matanya ia menoleh mencari-cari sumber suara. Ia bertemu pandang dengan sepasang mata beda warna yang tengah berbicara dengan wanita cantik berambut pirang. Saat keduanya menyadari Sakura sudah sadar, mereka menghentikan pembicaraan dan segera mendekatinya.
"Kau sudah bangun."
"Bagaimana perasaanmu Sakura?" Tsunade, wanita paruh baya itu mengambil cangkir di atas meja sebelah ranjang tempat Sakura berbaring.
"Minumlah!" dengan dibantu Kakashi Sakura bangkit dari tidurnya, kemudian menerima cangkir pemberian Tsunade.
"Apa ini?" Sakura mencium aromanya dan sedikit merasa mual.
"Itu tonik, agar tenagamu cepat pulih kembali."
Minuman itu terasa sangat pahit sampai-sampai ia akan memuntahkanya. Tapi melihat tampang sangar Tsunade, Sakura buru-buru menelanya. Sakura meraba mata kirinya yang ternyata tertutup perban dan mengerang karena sengatan rasa sakit dari matanya langsung menjalar sampai ke kepala. Ia segera tidur kembali, rasanya ia tidak ingin bangun. Ia yakin matanya sekarang membengkak. Ia mencoba mengingat terakhir kali sebelum tak sadarkan diri. Siang itu ia mencoba melerai Menma dan Gaara yang sedang berkelahi, namun sepertinya dirinya juga terkena imbas dari pergulatan itu.
"Berapa lama aku pingsan?"
"Mungkin 7 jam lebih."
Sakura mencari-cari jam yang mungkin saja ada di ruangan tempatnya berada. Namun benda itu tak kunjung ia temukan. Ia baru menyadari jika dirinya berada di dalam ruangan yang mirip rumah sakit. Lengakap dengan peralatan medis yang mengerikan. Dan bau steril tiba-tiba saja membuatnya ingin kembali ke kamarnya.
"Bolehkah aku kembali ke kamar?"
"Tunggu sebentar, Sasuke akan mengantarmu."
Ketika Sasuke datang, Sakura segera bangkit ingin cepat-cepat pergi dari sana. Ia terhuyung hampir jatuh namun Kakashi segera menopangnya. Rasanya ia lelah sekali.
"Kau bisa menginap disini Sakura."
"Tidak. Aku tidak apa-apa," dengan cepat Sakura menolak tawaran Kakashi. Ruangan itu sangat menakutkan baginya.
"Baiklah. Antarkan dia, Sasuke. Setelah itu datanglah ke ruanganku, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu."
"Hn."
***
Koridor seperti malam-malam sebelumya begitu sepi. Semua orang pasti lebih memilih bersantai di ruang rekreasi ataupun beristirahat di kamarnya masing-masing dibanding berkeliaran di sepanjang koridor yang pasti akan mendapatkan hukuman dari dewan keamanan siswa karena itu memang melanggar peraturan. Sakura menebak-nebak sedang apakah teman-temanya. Mau tak mau ia jadi memikirkan Gaara dan Menma. Terutama Menma setelah menonjok sudut matanya, akankah pemuda itu memeperlakukanya dengan cara yang berbeda. Tapi tetap saja Gaara seribu kali lebih baik dari Menma. Sakura jadi khawatir juga dengan keadaan Gaara mengingat, kekuatan Menma yang langsung membuatnya KO. Tapi Gaara itu lelaki pasti daya tahan tubuhnya berbeda denganya. Ia semakin pusing dengan apa yang akan terjadi esok pagi, apakah Sasuke tetap memintanya untuk berlatih seperti biasa. Membayangkan Sasuke yang menyiksanya dengan berlatih selama 6 jam tanpa berhenti dengan keadaanya sekarang membuatnya ingin menangis.
"Kau Kenapa?" Sasuke langsung bertanya ketika melihat gelagat aneh Sakura yang berjalan di sampingnya.
"Apakah aku besok tetap latihan seperti biasa?" Sakura meringis melihat Sasuke yang hanya menaikan sebelah alisnya.
"Jangan jadi manja!" pemuda itu tetap memandang lurus kedepan.
"Tubuhku sakit sekali, aku juga merasa lemas dan tak bertenaga. Bagaimana mungkin aku masih harus menjalani latihan dengan orang yang kejam sepertimu," Sakura merasa kesal.
"Kalau begitu kau terima saja saran dari Kakashi-sensei."
"Tidak mau!"
"Kau yang membuat dirimu dalam kesulitan, jadi jangan mengeluh dan bertanggung jawablah. Jangan jadikan itu sebagai alasan untuk meninggalkan kewajibanmu."
"Apa?"
"Jika ada hal seperti ini harusnya kau tak usah ikut campur."
"Bagaimana mungkin aku melakukanya? Ini terjadi juga karena ada hubunganya denganku."
"Orang sepertimu memang susah mengerti," Sasuke bahkan sama sekali tak bersimpati pada Sakura.
Ketika mereka sampai di depan kamar Sakura, Sasuke memberikan ransel milik Sakura yang sejak tadi disandang di bahunya.
"Jangan berteman dengan siapapun, ini demi kebaikanmu. Istirahatlah," dengan itu Sasuke segera berbalik pergi. Sakura memandang punggung itu dengan sedih.
Malam itu ia tak bisa tidur. Semua badanya terasa sakit dan pegal. Pikiranya campur aduk membuat kepalanya semakin sakit.
***
Pagi itu, Ino dan Hinata mengunjungi kamar Sakura. Mereka segera memberondongnya dengan berbagai pertanyaan sampai-sampai ia kewalahan menjawabnya. Sakura bahkan masih mengantuk. Matanya terasa makin menyipit dan berat, badanya sakit luar biasa.
"Jangan lepas perbanya bodoh!" Ino mendelik pada Sakura saat ia melepas perban yang menutupi matanya.
"Ini benar-benar tidak nyaman Ino,"Sakura tetap membuka perbanya. Sejurus kemudian ia menjerit membuat Ino dan Hinata menutup telinga.
"Ya ampun Sakura."
"Sakura, itu sangat mengerikan."
Sakura meratapi bayangan dirinya yang terpantul pada cermin. Mata kirinya berwarna biru kehitaman dan kelopaknya lebam sehingga tak bisa membuka. Saat ia menyentuhnya rasa sakitnya makin terasa. Sakura tak percaya semuanya bisa separah ini.
"Bagaimana mungkin aku keluar dengan keadaan seperti ini? Ini sangat mengerikan."
"Lagi pula itu salahmu sendiri. Kau ini bodoh atau bagaimana? Lain kali jangan pernah melibatkan dirimu jika para lelaki sedang adu kekuatan," Ino menasehatinya sambil mengolesi obat pada matanya yang bengkak.
"Aw Inoo... sakit bodoh. Kau mengolesinya terlalu kasar, aku mau Hinata saja," Sakura bersungut-sungut menjauh dari Ino yang berusaha menjangkaunya.
"Dasar kau anak manja," Ino menyilangkan tanganya di depan dada.
"Sebenarnya apa yang terjadi kemarin?"
"Kau harusnya lihat betapa bodohnya dirimu Sakura," Ino membuka-buka buku yang terdapat di atas meja sakura.
"Memangnya kenapa?"
"Kau seharusnya lihat dirimu saat ditonjok kemarin, kau seperti bola tenis yang dipukul dengan kekuatan extra. Melambung tinggi hahahaaa.... Lain kali jangan meladeni orang-orang seperti Menma, itu hanya akan membuatmu berada dalam masalah."
"Memangnya ada apa antara Sakura dan Menma?" Hinata yang sejak tadi hanya mendengarkan pembicaraan ke dua temanya bertanya pada Sakura sambil kembali menempelkan perban di mata kiri Sakura.
"Iya benar, aku juga penasaran sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan Menma," Ino memegang dagunya berpikir.
"Mana ku tahu, lagipula kalian bilang memang sifatnya begitu kan?"
"Memang, tapi dia tidak bersifat begitu pada gadis-gadis yang lainya. Ayo ingat-ingat lagi jangan-jangan kau tak sengaja merusak benda-benda anehnya?" Ino mendesaknya.
Sakura menghela nafas panjang kemudian mencoba mengingat-ingat saat pertama kalinya ia datang ke Konoha sampai sekarang. Tapi ia yakin, pertama kali ia melihat Menma saat mengikuti upacara penyambutan siswa baru.
"Entahlah, aku yakin aku tak mempunyai salah terhadap orang menyebalkan itu. Dia yang mencari gara-gara padaku."
"Sakura, apa yang kau lakukan seharian kemarin? Bukanya kau belum mendapatkan tutor?" Ino mencorat-coret di buku Sakura dengan pensil. Begitu melihatnya, Sakura segera merebut buku itu dari tangan Ino dengan paksa.
"Kau ini. Ini buku berharga jangan di coret-coret sembarangan."
"Apa istimewanya itu?" Ino memberengut sementara Hinata tertawa kecil melihat pertengkaran ke dua temanya.
"Sebenarnya aku sudah mempunyai seorang trainer hahahaaa..." Sakura tertawa dipaksakan. Jika ia mengingat siapa trainernya, ia akan tersenyum senang. Tapi jika mengingat sifatnya yang kejam membuatnya ingin menghajar benda-benda disampingnya, karena sudah pasti menghajar seorang Uchiha Sasuke hanya terjadi dalam angan-anganya. Ia jadi kesal sendiri mengingat sebentar lagi pemuda itu akan kembali menyiksanya.
"Benarkah?" Ino bertanya skeptis.
"Siapa orang itu Sakura?" Hinata jadi ikut penasaran.
"Kalian mungkin tak akan percaya jika seorang Uchiha Sasuke menjadi trainerku kan?"
Ino dan Hinata sangat terkejut mendengarnya. Mereka segera memandang Sakura yang memang serius mengatakanya.
"Bagaimana mungkin?" Ino berkata setengah tak percaya.
"Mana ku tahu."
"Aneh sekali. Sasuke seharusnya tidak menjadi instruktor siapapun," Hinata berpandangan dengan Ino.
"Mungkinkah kau sudah mahir menggunakan pisau komando? Atau kau ahli dalam memetakan keadaan? Atau...."
"Waktunya sarapan," Sakura segera memotong kata-kata Ino. Ia merasa waspada jika ketidak tahuanya dalam dunia peranbuan diketahui temanya. Ia takut jika teman-temanya mengetahui kebenaran itu maka mereka akan membencinya.
"Ya, kau benar. Tapi tentang Uchiha Sasuke yang menjadi instruktormu pasti akan membuat para gadis-gadis di sini membencimu. Hanya masalah waktu sampai kabar ini membuat gempar seluruh akademi. Dan kau sebaiknya berhati-hati mulai sekarang," Ino menasehatinya.
Sakura mengangguk-angguk membenarkan perkataan Ino. Ia berpikir apa yang akan dilakukanya jika semua orang sudah mengetahui hal tersebut. Apa yang akan terjadi padanya? Apa semua gadis-gadis disana akan memusuhinya?
"Ayo ke kafetaria," suara Ino membuyarkan lamunanya.
***
Ketika memasuki ruang kafetaria, Sakura berpapasan dengan Menma yang membawa nampan berisi makanan. Sakura pura-pura cuek. Ia tetap melenggang tanpa menatap Menma. Di luar dugaanya, Menma pun sama cueknya. Pemuda itu hanya menatapnya sekilas dan tanpa mengatakan apapun segera mencari tempat duduk. Sakura menahan nafas geram. Beraninya Menma mengacuhkanya setelah apa yang pemuda itu lakukan padanya. Setidaknya Sakura berharap Menma akan mengatakan maaf padanya. Tapi ini? Benar-benar membuatnya kesal.
Ia mengantri untuk mengambil makanan. Semua orang tampak memperhatikanya dan berbisik-bisik. Ia tahu ia memang tak pernah absen jadi bahan pembicaraan. Tapi mau bagaimana lagi, semua terjadi begitu saja.
"Sudahlah Sakura jangan sedih, jangan dengarkan kata-kata mereka. Semangat!" Hinata mencoba memberi semangat pada Sakura dengan mengepalkan tanganya. Walau itu sama sekali tak memberikan efek yang nyata, namun Sakura tersenyum mendengarnya. Andai Hinata tahu apa yang dirasakanya sekarang, akankah ia bisa mengatasi rasa sedih itu sendirian? Tanpa seorang temanpun untuk berbagi. Namun ia akan mencontoh ayahnya sebagai orang yang kuat, ia akan menghadapi semua masalah yang datang walau sendirian.
"Terima kasih Hinata," Sakura tersenyum tulus.
"Sepertinya aku kenal gelagat yang baru saja kau tunjukan, Hinata," Ino menyipitkan matanya. Entah kenapa wajah Hinata jadi memerah dan ia mencoba menelan makananya namun langsung tersedak saat Ino bilang Naruto-senpai. Sakura jadi tertawa melihatnya.
"Sakura-chan, kau tidak apa-apa kan? Oh, matamu pasti bengkak ya gara-gara kuda gila itu,"Konohamaru tiba-tiba duduk disamping Sakura. Sakura hanya tersenyum kecut memandang Menma yang sedang makan dengan tampang tanpa rasa bersalah.
"Ini makanlah,"Konohamaru menyodorkan semangkuk buah nanas yang sudah dipotong-potong kehadapan Sakura.
"Nanas?" walau Sakura bingung, toh ia tetap menerimanya.
"Dengarkan baik-baik para gadis, Konohamaru yang tampan ini akan menjelaskanya pada kalian. Buah nanas itu mengandung enzim digesti yang disebut bromelain yang mampu menghancurkan protein yang menyebabkan darah dan cairan terperangkap dalam jaringan. Jadi makanlah nanas yang banyak agar memarmu itu segera sembuh," Konohamaru dengan gaya seperti ilmuwan tersenyum-senyum pada Sakura.
"Oh, biar kumakan yang banyak," Sakura sangat bersemangat memakan buah manis itu, sementara Konohamaru mengangguk-angguk senang.
"Tumben sekali otakmu jalan? Biasanya kau bertingkah seperti orang yang tak punya otak," Ino bertanya pada Konohamaru.
"Enak saja, biar tampan aku juga cerdas. Hanya saja aku tak sering menunjukanya di depan orang-orang. Kalau semua orang menyadarinya pasti semua gadis-gadis akan berlomba-lomba mengejarku. Tapi aku kasihan terhadap orang-orang seperti Uchiha Sasuke, nanti dia tak punya fansgirl lagi jika semua gadis-gadis yang tergila-gila padanya berbalik padaku hahahaa...," Konohamaru tertawa membayangkanya.
"Dasar narsis, berhentilah membayangkan yang tidak-tidak," Ino bosan dengan bualan Konohamaru.
"Tapi kemarin aku melihatmu bertanya pada Tsunade sensei tentang obat untuk memar," Hinata dengan tampang inosen bertanya pada Konohamaru, membuatnya meringis.
"Ah Hinata, kenapa kau tega mengatakanya?"
"Haa sudah kuduga, playboy sepertimu mana mungkin tahu tentang hal-hal seperti itu. Yang kau pedulikan hanya merayu para gadis-gadis yang kecentilan," Ino berkata pedas.
"Sakura kau percaya aku bukan seorang playboy kan? Sungguh bagiku hanya kau gadis yang paling cantik se Konoha."
"Jangan menggodanya!" Ino berkata galak membuat Konohamaru cemberut sambil meminum susu kotaknya.
"Apapun yang telah kau lakukan tidak masalah buatku. Terima kasih banyak Konohamaru," Sakura membungkuk berterimakasih.
"Ah jangan seperti itu Sakura-chan, kau membuatku merasa seperti seorang jentelmen," Konohamaru tertawa.
Sakura tertawa dengan tingkah Konohamaru. Sarutobi Konohamaru adalah cucu dari mantan Ketua ANBU yang sangat terhormat serta keponakan Sarutobi Asuma, salah satu ANBU elite Konoha. Tak heran jika ia begitu dipuja banyak gadis. Bukan hanya karena ia cucu dari orang terpandang di Konoha, namun kemampuanya dalam bersosialisasi dengan banyak orang juga menjadikanya sangat disukai hampir semua gadis-gadis.
"Sakura, biskah kita bicara sebentar."
Sakura yang akan keluar dari kafetaria bersama Ino dan Hinata berbalik. Gaara sudah berada di depanya. Tangan kananya berada di dalam saku celana, sementara tangan kirinya memegangi tali ransel yang yang diselempangkan di lengan kirinya. Sabaku Gaara terlihat sangat keren dilihat dari segala sisi.
"Ya, tentu," Sakura dengan ragu mengikuti Gaara yang berjalan keluar kafetaria duluan. Semua orang di kafetaria memandang kepergian mereka kemudian mulai berbisik-bisik.
Gaara membawanya ke ujung koridor yang sepi. Sakura melihat ke sekelilingnya yang sama sekali tak ada orang. Ia tak tahu apa yang perlu dibicarakanya bersama Gaara. Sekarang sudah jam tujuh lewat, ia pasti akan terlambat latihan.
"Sakura."
"Ya," Sakura melihat wajah Gaara yang kini baru disadarinya terdapat lebam dibagian sudut mulutnya.
"Maaf, aku membuatmu terluka," Gaara melihat perban yang menutupi matanya dengan sedih.
"Ah, tidak apa-apa. Kau terluka juga karena aku kan?" Sakura tersenyum tidak nyaman saat Gaara memandang tepat ke dalam matanya. Pemuda di hadapanya itu mengingatkanya pada sosok pemuda yang juga sama-sama berambut merah, Akasuna Sasori.
"Kau...," Gaara sepertinya ragu-ragu dengan apa yang akan ia katakan. Pemuda itu mengalihkan tatapanya ke langit biru yang diselimuti awan. Pandanganya menerawang jauh kedepan. Ia menghela nafas berat.
"Sebenarnya semua ini sama sekali tak ada hubunganya denganmu. Jadi, bisakah kau tak usah melibatkan diri jika suatu saat kejadian seperti ini terulang kembali?" Gaara kembali memandangnya dengan sungguh-sungguh.
"Ya?" Sakura sedikit bingung dengan apa yang Gaara bicarakan. Sejujurnya ia sedikit kecewa juga.
"Sebaiknya kau menjauhiku dan Menma demi kebaikan kita semua. Dia bukan lelaki yang baik untukmu," Gaara membuka ranselnya dan memberikan bingkisan kecil pada Sakura.
"Apa ini?"
"Ekstrak Bilberry. Minumlah dengan teratur, karena itu dapat mengurangi warna memar dan menstabilkan kolagen serta memperkuat pembuluh darah kapiler agar memarmu cepat sembuh. Aku pergi."
Sakura terdiam memandang Gaara yang pergi menjauh dengan perasaan tak menentu. Ia melihat kotak yang ada di tanganya. Ia kembali memikirkan kata-kata Gaara. Sepertinya apa yang di katakan Sasuke memang benar, sebaiknya ia tak berteman dengan siapapun. Pemikiran itu segera membuatnya kembali bersedih.
***
Sakura memasuki ruang 13 dengan gontai. Belum melakukan latihan saja ia sudah merasa lelah, apalagi kalau ia sudah latihan. Ruangan itu kini kembali kosong. Sasuke sedang memandang layar proyektor di depanya. Sakura meletakan ranselnya kemudian berjalan mendekati Sasuke.
"Langsung lari 15 menit."
Sakura langsung cemberut mendengar perintah Sasuke. Dia bahkan belum melihat kearahnya sejak ia datang. Sakura berharap, setidaknya ia hanya perlu berlari 5 menit kemudian istirahat. Karena kemarin ia hampir kehausan, maka kali ini ia membawa air mineral dan meminumnya banyak-banyak hingga tumpah membasahi bagian depan training suitnya. Ia mengumpat pelan. Tanpa banyak protes lagi ia mulai berlari-lari kecil. Sungguh badanya yang terasa sakit kini semakin terasa sakit.
Setelah melewati 15 menit penyiksaan fisik, Sakura kembali beristirahat. Ia melihat Sasuke yang sedang berbicara dengan seseorang di ponsel dengan mata menyipit sebelah. Perban yang menutupi sebelah matanya sungguh membuatnya kesulitan untuk melihat jarak jauh. Sakura berusaha mencuri dengar pembicaraan Sasuke dengan ngesot perlahan-lahan mendekati pemuda yang memunggunginya.
"Hn."
"Hn."
"Hn."
Sakura melongo. Apa-apaan pemuda kasar itu? Ia bertanya-tanya apa pemuda itu sudah gila. Tak ada seorangpun yang sedang bertelfon hanya mengucapkan kata hn berulang kali. Apa mungkin hn adalah sebuah kata sandi yang hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu seperti dalam film-film detektif yang sering ditontonya, Sakura membatin.
"Ibu, sudah kubilang ini tidak perlu," Sasuke berbalik dan langsung melihat Sakura yang sedang duduk dilantai tak jauh darinya dengan sebelah mata melebar.
"Ada anak anjing malang yang perlu kutangani, nanti kutelfon lagi." Sakura mendelik mendengar pernyataan Sasuke.
"Hn," Sasuke segera mematikan ponsel dan kembali mengantonginya.
"Sedang apa kau disini?"
Sakura bangkit dan pura-pura berlari-lari kecil,"aku sedang lari-lari, lihat?"
"Kau mau berlari lagi?"
Sakura segera berhenti dengan takut-takut, ia menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Duduk di sana!" Sasuke menunjuk kearah layar besar yang sedang menunjukan adegan dua orang pemuda saling meninju. Sakura patuh. Ia segera duduk dan memandang layar didepanya dengan ngeri.
"Dengar dan perhatikan ini dengan baik-baik Sakura, karena aku akan menjelaskan seputar dunia ANBU secara singkat dan tak ada pengulangan."
"ANBU adalah kepandekan dari Ansatsu Senjutsu Tokushu Butai yang berarti pembunuhan khusus dan squad taktis. Sederhananya adalah pasukan khusus. ANBU dipimpin oleh seorang pemimpin yang disebut Hokage dan secara langsung berada di bawah kontrolnya. Itulah kenapa polisi reguler tak dapat menangkap seorang ANBU entah dengan alasan apapun. Tugas seorang ANBU adalah melindungi melindungi masyarakat dari berbagi ancaman. ANBU bukanlah pasukan sembarangan, tak ada kata main-main disini. Seseorang yang ingin menjadi ANBU harus berani mengambil resiko, meski nyawa yang menjadi taruhan. Entah itu nyawanya sendiri maupun nyawa orang lain. Mereka juga harus mengesampingkan perasaanya karena tugas mereka melakukan pembunuhan, pelacakan, pengawasan, sering juga bertindak sebagai mata-mata. Karenanyan ANBU memerlukan pelatihan khusus seperti yang sedang kau jalani saat ini."
Sakura melihat barisan orang-orang dengan pakaian hitam dan rompi anti peluru yang mereka sebut sebagai ANBU. Kemudian ia menatap Sasuke Uchiha dan tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Kau tak mendengarkanku?"
"Huh?" Sakura tersadar ketika Sasuke bertanya padanya.
"Seperti yang kubilang, tak ada pengulangan. Aku adalah orang yang bergerak cepat, jika aku jadi dirimu aku takan membuang waktuku dengan bermalas-malasan, dan melamunkan hal-hal bodoh."
Sakura diam saja, saat ini berbagai pertanyaan berputar-putar dibenaknya. Jika dalam keadaan normal pasti ia akan membela diri, tapi sekarang banyak hal yang lebih mengganggunya dibanding hinaan seorang Uchiha Sasuke. Sekarang ia tahu, bekas luka panjang di punggung ayahnya itu disebabkan karena sebuah misi. Setelah ia merenung dan berpikir, sampailah ia pada satu kesimpulan yang masuk akal. Ayah dan ibunya adalah seorang ANBU. Tapi ia tak habis pikir, kenapa orang tuanya merahasiakan hal sebegini besar terhadapnya selama ini? Ia merasa sakit secara fisik maupun mental. Ia sudah tak sabar menunggu hari esok, karena akhir pekan ia sudah berjanji pada ibunya jika ia akan pulang.
***
Malam ini Sakura tak bisa tidur. Ia sudah tak sabar menyambut esok pagi. Walau ia sedih tapi ia juga bahagia bisa bertemu ayah dan ibunya sebentar lagi. Ia terbaring di tempat tidur mungilnya dan menatap langit-langit, kemudian ia mulai menggambar garis-garis imajiner lalu tersenyum. Ibunya selalu melakukan hal serupa saat Sakura kecil susah tidur. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga sekarang. Ia sudah terlanjur percaya jika apapun yang digambar atau ditulisnya itu akan menjadi kenyataan setelah ia bangun tidur.
Esok paginya, Sakura mandi lebih awal untuk bersiap-siap pulang. Lampu indikator pada layar disebelah pintunya berkedip-kedip menandakan ada sebuah pesan masuk. Dengan malas ia membukanya. Uchiha Sasuke menyuruhnya menemui lelaki itu sesegera mungkin. Ia berdecak sebal dan mengabaikan perintah itu. Ia hanya ingin pulang dan terbebas dari rutinitas yang menjengkelkan itu. Lagi pula hari itu semua siswa libur, jadi ia tak mau berurusan dengan pemuda itu. Karena Sakura tahu apa yang akan terjadi jika Sasuke sudah memintanya bertemu.
Sebelum keluar kamar, ia memastikan seisi kamarnya dalam keadaan rapi jadi saat ia kembali nanti tak perlu membereskanya. Itupun jika ia kembali, namun ia berencana tak akan kembali ke tempat penyiksaan ini. Ia menggendong ransel yang berisi beberapa potong pakaian serta boneka beruang kecilnya. Ia melihat tiap sudut kamar yang telah ditempatinya selama tak lebih dari seminggu itu dengan perasaan sedih sebelum menutup pintu dan menguncinya. Namun ia kembali membuka pintu dan menuliskan balasan untuk Sasuke. Ia berkata bahwa ia tak mau menemui pemuda itu. Ia tersenyum puas telah membangkang perintah pemuda menyebalkan itu. Setelah mengunci pintunya kembali, ia berjalan menuju kafetaria dengan semangat.
Di kafetaria bergabung dengan Ino, Hinata dan Chouji setelah mengambil makanan banyak-banyak. Ia tak henti-hentinya tertawa saat melihat Chouji yang bicara dengan mulut penuh. Bahkan Gaara yang sama sekali tak memandangnya saat berpapasan pun tak membuat kebahagiaan Sakura berkurang.
"Kau terlihat bahagia sekali, apa karena hari ini libur latihan?" Ino bertanya sambil memakan salad buahnya.
"Tentu saja. Namun bukan itu yang membuatku bahagia," Sakura menandaskan air putihnya. "Aku akan segera pulang dan bertemu ayah dan ibuku."
Ketiga temanya sontak melihat kearah Sakura secara bersamaan. Ino menyeringai melihat tampang inosen Sakura saat mengatakan ia akan pulang.
"Tentu saja, sampaikan salamku pada ayah dan ibumu," setelah itu Ino dan Chouji tertawa terbahak-bahak. Tubuh gempal chouji bahkan sampai bergetar saking kencangnya ia tertawa. Hanya hinata yang tersenyum kecil dengan malu-malu melihat Sakura. Semua orang memandang aneh kearah mereka, tak terkecuali Sakura yang juga ikut heran.
"Hei Sakura kau ini sungguh pandai membuat lelucon dengan muka polosmu itu," Ino masih saja belum berhenti tertawa membuat Sakura sebal.
Saat keluar dari kafetaria, Sakura melihat Menma yang sedang berjalan kearahnya. Entah kenapa perasaanya menjadi buruk saat melihat pemuda angkuh itu. Menma terus menatap kedalam sebelah matanya selagi berjalan dengan perlahan, sedang Sakura hanya berdiri diam dengan muka tegang. ia berharap kali ini Menma setidaknya menanyakan keadaanya, jadi dengan begitu ia tak perlu merasa tidak nyaman tiap kali bertemu pemuda itu. Namun seperti kemarin, Menma tanpa mengucap sepatah katapun kembali melewatinya yang melongo seperti patung hidup. Sungguh ia sudah tak tahan lagi, jadi ia segera berbalik dan dengan suara melengking nyaring ia berterik pada punggung Menma.
"Kau!"
Menma berhenti dan berbalik menghadapnya, "Kau memanggilku?"
Sakura mengatur nafasnya mencoba mengatur kemarahan yang kini membuncah di dada. Ia berdehem pelan, sebenarnya ia tak tahu apa yang akan dikatakanya. Tadi rasa-rasanya banyak kata-kata yang akan dilontarkan, tapi kini setelah ia berhadapan dengan Menma seolah kata-katanya hilang entah kemana. Mereka berhadapan dalam diam untuk waktu yang lama.
"Kau tak bermaksud membuatku seperti orang bodoh kan?" Menma berkata sarkastis, ia melipat tanganya di depan dada sementara Sakura hanya berkedip-kedip.
"Setidaknya bicaralah padaku. Lihat ini," Sakura menunjuk sebelah matanya yang di perban.
"Ck, itu salahmu sendiri," Menma berkata tak peduli. "Mau kemana kau?"
"Aku mau pulang."
"Jangan bercanda," pemuda itu tertawa mencemooh. "Kembalilah ke kamarmu dan kembalikan barang bawaanmu ke tempat semula. Jangan membuang-buang waktumu, lebih baik kau belajar atau kembali berlatih," dengan itu Menma kembali meneruskan langkahnya ke kafetaria.
"Pokoknya aku akan pulang," Sakura berteriak namun pemuda itu tak mengacuhkanya.
Ia meneruskan langkah dengan suasana hati berbanding terbalik dengan saat ia menuju kafetaria. Ia mencoba mengumpulkan kembali semangatnya dengan mengepalkan tinjunya ke udara. Sampai di depan gerbang ia bertanya pada salah seorang penjaga yang bernama Izumo.
"Apa ada orang tua yang mencari Sakura kelas pertama?"
"Tentu saja tidak, ini bukan waktunya orang tua berkunjung," Izumo menyipitkan matanya memperhatikan Sakura yang membawa ransel.
"Tapi orang tuaku telah berjanji akan menjemputku saat akhir pekan, ini kan sudah akhir pekan."
"Sudah ku bilang, ini bukan waktunya para orang tua berkunjung. Jadi orang tuamu tak akan datang. Kembalilah ke dalam dan berlatihlah yang rajin!"
"Kalau begitu bolehkah aku meminjam telfon untuk menghubungi orang tuaku?" Sakura memohon dengan sangat.
"Tidak!" Izumo berkata tegas.
"Aku akan tetap menunggu," Sakura bersikeras.
"Dasar kau anak nakal yang bodoh, semua genin juga tahu jika sudah memasuki ANBU kau dilarang bertemu dan menghubungi orang tuamu. Cepat sana kembali jika tidak ingin mendapat hukuman!"
"Aku akan tetap menunggu disini," Sakura duduk dengan lesu di sebuah kursi besi yang keras.
"Terserah kau sajalah," Izumo berkata tak peduli kemudian kembali berdiskusi dengan rekan-rekanya.
Waktu makan siang telah berlalu, namun Sakura tetap menunggu. Ia yakin ayah dan Ibunya pasti akan datang menjemputnya. Namun ia mulai menyangsikan kepercayaanya kala matahari berangsur-angsur kembali ke peraduanya. Ia bahkan mengabaikan rasa lelah dan laparnya. Namun ia kecewa kala sampai waktu makan malampun orang tuanya tak kunjung datang.
"Sedang apa kau disini? Masuk!" Sakura mendongak menyadari seseorang berdiri di hadapanya. Ia menatap Uchiha Sasuke dengan tatapan kecewa. Ia menggeleng pelan, mencoba berpegang pada keyakinanya. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Masuklah, kau sudah terlalu lama disini," pemuda itu mengambil ransel Sakura dan menyandangnya di bahu. Saat melihat Sakura yang diam saja, Sasuke segera mengambil tangan Sakura. Menyuruhnya berdiri dan segera menuntunya kembali masuk dengan perlahan.
"Jangan menangis. Aku benci orang yang menunjukan kelemahanya secara terang-terangan di depanku."
Sakura melihat ke belakang, dimana pintu gerbang berdiri kokoh berharap pintu itu akan terbuka dan menampakan sosok orang yang paling ingin ditemuinya saat ini. Namun pintu itu tetap tertutup seiring langkahnya yang semakin menjauh. Diam-diam Sakura mengusap sebutir air matanya yang bergulir jatuh ke pipinya.
...
TBC
Komentar
Posting Komentar